Strategi Pembelajaran Matematika SD Berbasis Teori Torrance
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Teori E. Paul Torrance bukan hanya tentang mengukur kreativitas, tetapi lebih penting lagi tentang bagaimana mengembangkannya dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Banyak guru memahami pentingnya kreativitas tetapi merasa kesulitan menerapkannya dalam pembelajaran matematika yang seringkali dianggap kaku dan terstruktur. Artikel ini menyajikan strategi-strategi praktis dan konkret untuk menerapkan teori Torrance dalam pembelajaran matematika SD.
Sebelum masuk ke strategi spesifik, penting untuk memahami prinsip-prinsip dasar pembelajaran kreatif menurut Torrance. Prinsip pertama adalah bahwa setiap anak kreatif dengan caranya sendiri. Tidak ada satu tipe kreativitas yang lebih baik dari yang lain. Beberapa anak mungkin sangat baik dalam menghasilkan banyak ide, sementara yang lain unggul dalam keunikan pemikiran. Prinsip kedua adalah kreativitas dapat diajarkan dan dipelajari. Ini adalah kabar baik karena artinya setiap guru dapat membantu siswanya menjadi lebih kreatif. Kreativitas bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang, tetapi keterampilan yang dapat dikembangkan dengan latihan dan lingkungan yang mendukung. Prinsip ketiga adalah lingkungan pembelajaran sangat mempengaruhi kreativitas. Ruang kelas yang kaku akan mematikan kreativitas. Sebaliknya, ruang kelas yang terbuka dan menghargai keunikan akan menyuburkan kreativitas. Prinsip keempat adalah kegagalan adalah bagian dari proses kreatif. Tidak ada inovasi tanpa eksperimen, dan tidak ada eksperimen tanpa risiko gagal. Guru perlu mengajarkan bahwa kesalahan adalah bukti keberanian mencoba. Prinsip kelima adalah pertanyaan lebih penting daripada jawaban. Pembelajaran kreatif dimulai dari pertanyaan yang bagus, bukan dari jawaban yang benar.
Brainstorming adalah teknik klasik untuk mengembangkan kreativitas yang sangat cocok untuk pembelajaran matematika SD. Cara kerjanya adalah dengan mengajukan satu masalah matematika yang bersifat terbuka dan meminta siswa menghasilkan sebanyak mungkin solusi tanpa kritik atau penilaian di tahap awal.
Implementasi brainstorming dilakukan dalam tiga fase. Fase pertama adalah fase divergen yang berlangsung sekitar sepuluh hingga lima belas menit, di mana siswa mengemukakan semua ide yang terpikirkan tanpa ada yang salah atau dikritik. Guru mencatat semua ide tanpa mengevaluasi. Fase kedua adalah fase konvergen yang juga berlangsung sekitar sepuluh hingga lima belas menit, di mana siswa mulai mengevaluasi ide-ide yang telah dihasilkan dan memilih mana yang paling efisien atau menarik. Fase ketiga adalah fase implementasi yang berlangsung lima belas hingga dua puluh menit, di mana siswa mencoba beberapa metode terbaik yang telah dipilih dan membandingkan hasilnya. Teknik ini melatih komponen fluency karena siswa menghasilkan banyak ide dalam waktu singkat. Juga melatih flexibility karena mereka menggunakan berbagai pendekatan. Originality juga berkembang ketika ide-ide unik muncul yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Problem posing atau membuat soal adalah strategi yang sangat powerful namun sering terabaikan dalam pembelajaran matematika. Alih-alih selalu memberikan soal kepada siswa, guru meminta siswa membuat soal mereka sendiri. Strategi ini membalik peran tradisional dan memberdayakan siswa sebagai kreator, bukan hanya konsumen matematika. Cara kerjanya adalah dengan memberikan situasi atau konteks, kemudian meminta siswa membuat berbagai soal matematika dari konteks tersebut. Siswa akan menghasilkan berbagai jenis soal mulai dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks.
Strategi ini melatih originality karena setiap siswa akan membuat soal yang berbeda sesuai dengan cara berpikir mereka. Elaboration juga berkembang ketika siswa diminta menjelaskan soal mereka dan memberikan solusinya. Flexibility terlihat dari variasi jenis soal yang dibuat. Keuntungan tambahan dari strategi ini adalah guru dapat menggunakan soal-soal yang dibuat siswa sebagai bahan pembelajaran di pertemuan berikutnya, yang membuat siswa merasa kontribusi mereka dihargai.
Berpikir visual atau visual thinking adalah strategi yang sangat cocok untuk siswa SD yang masih berada dalam tahap operasional konkret. Strategi ini menggunakan representasi visual untuk memahami dan menyelesaikan masalah matematika, yang membuat konsep abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami.
Dalam pembelajaran pecahan misalnya, metode tradisional hanya menjelaskan secara verbal atau simbolik. Namun dengan visual thinking, guru dapat meminta siswa menggambar berbagai representasi untuk konsep yang sama. Siswa akan menghasilkan berbagai gambar yang berbeda, menunjukkan pemahaman mereka dari berbagai perspektif visual. Strategi ini melatih originality karena setiap anak akan membuat representasi visual yang unik. Elaboration juga berkembang ketika anak menambahkan detail pada gambar mereka dan menjelaskan setiap elemen.
Menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata membuat pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual. Guru dapat menggunakan proyek berbasis kehidupan nyata yang melibatkan berbagai konsep matematika sekaligus. Misalnya, proyek merencanakan piknik kelas yang melibatkan budgeting untuk menghitung berapa uang yang dibutuhkan, pengukuran untuk menentukan berapa banyak makanan yang harus dibeli, waktu untuk menentukan jadwal kegiatan, dan geometri untuk mengatur tempat duduk. Strategi ini melatih fluency karena banyaknya aspek matematika yang terlibat dalam satu proyek, flexibility karena penggunaan berbagai konsep matematika, dan elaboration karena perencanaan yang detail dan komprehensif.
Pertanyaan what if atau bagaimana jika adalah strategi yang mendorong siswa berpikir kreatif dengan mengajukan pertanyaan hipotetis. Misalnya, bagaimana jika kita punya sistem angka yang berbeda, bagaimana jika semua bentuk geometri adalah persegi, atau bagaimana jika jam hanya punya sepuluh jam bukan dua puluh empat jam. Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong siswa untuk berpikir di luar kebiasaan dan mengeksplorasi konsekuensi dari situasi hipotetis. Strategi ini sangat efektif untuk melatih originality dan elaboration karena siswa harus mengembangkan pemikiran yang tidak konvensional dan menjelaskan implikasinya secara detail.
Untuk guru, yang terpenting adalah memulai dengan satu strategi terlebih dahulu, jangan mencoba semua sekaligus. Berikan waktu transisi karena siswa perlu beradaptasi dengan pembelajaran kreatif yang mungkin berbeda dari yang biasa mereka alami. Dokumentasikan karya kreatif siswa melalui foto, video, atau portofolio untuk menunjukkan perkembangan mereka. Lakukan evaluasi dan refleksi secara berkala untuk melihat mana strategi yang paling efektif untuk kelas Anda.
Untuk orang tua, dukung pembelajaran kreatif di rumah dengan tidak langsung memberikan jawaban ketika anak bertanya, tetapi ajukan pertanyaan balik yang mendorong mereka berpikir. Libatkan anak dalam aktivitas sehari-hari yang melibatkan matematika seperti memasak, berbelanja, atau mengatur rumah. Bermain game matematika yang menyenangkan seperti ular tangga, monopoli, atau kartu yang melibatkan strategi dan perhitungan.
Menerapkan teori Torrance dalam pembelajaran matematika SD bukan tentang mengubah total kurikulum, tetapi tentang mengubah pendekatan. Dengan strategi-strategi ini, matematika bukan lagi tentang menghafal rumus, tetapi tentang eksplorasi, penemuan, dan kreativitas. Setiap strategi melatih komponen-komponen kreativitas Torrance sambil tetap mencapai tujuan pembelajaran matematika. Yang terpenting adalah menciptakan lingkungan di mana siswa merasa aman untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan berpikir berbeda.
Penulis: Neni Mariana