Suara dari Kelas: Dilema Guru Menghadapi Standar TKA 2026
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru di
sekolah dasar kini berada dalam posisi yang sulit sejak TKA 2026 ditetapkan
sebagai indikator utama keberhasilan pendidikan di tingkat dasar. Para pendidik
dituntut untuk mencetak siswa dengan kemampuan logika tinggi, sementara mereka
sendiri seringkali belum mendapatkan pelatihan yang memadai mengenai cara
mengajarkan materi tersebut. Beban administratif yang menumpuk ditambah tekanan
untuk mencapai target nilai nasional membuat ruang gerak guru untuk berinovasi
menjadi semakin terbatas.
Fakta di lapangan
menunjukkan adanya ketidaksiapan perangkat pembelajaran yang selaras dengan
model soal TKA yang sangat analitis. Guru terpaksa mencari referensi mandiri
dan mengalokasikan waktu tambahan di luar jam kerja untuk memberikan simulasi
kepada siswa mereka. Kondisi ini memicu kelelahan kerja yang tinggi, yang pada
akhirnya dapat menurunkan kualitas interaksi antara guru dan murid di dalam
kelas.
Kekhawatiran akan
penilaian kinerja berdasarkan skor TKA siswa membuat banyak guru merasa
terintimidasi oleh kebijakan standar mutu ini. Ada kecenderungan guru hanya
fokus pada siswa yang dianggap mampu, sementara siswa yang lambat belajar
semakin tertinggal karena target kurikulum yang harus segera tuntas. TKA 2026,
jika tidak dikelola dengan bijak, dapat merusak filosofi pendidikan inklusif
yang selama ini diperjuangkan.
Pemerintah perlu
memberikan dukungan nyata berupa distribusi modul ajar yang berkualitas dan
pelatihan intensif yang menjangkau seluruh pelosok negeri. Guru membutuhkan
solusi konkret, bukan sekadar instruksi untuk menaikkan standar nilai tanpa
alat bantu yang memadai. Keberhasilan implementasi TKA sangat bergantung pada
seberapa besar pemerintah memberdayakan guru sebagai ujung tombak transformasi
pendidikan di kelas.
Ke depan, TKA 2026 harus
diposisikan sebagai cermin bagi guru untuk memperbaiki metode pengajaran, bukan
sebagai alat untuk menghakimi kompetensi mereka. Sinergi antara kebijakan pusat
dan realitas kelas harus diperkuat agar standar mutu ini menjadi cita-cita
bersama, bukan beban yang dipaksakan. Pendidikan yang bermutu hanya akan
terwujud jika guru merasa didukung dan siswa merasa dihargai dalam setiap
proses belajarnya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah