Tantangan Etika Penggunaan ChatGPT dalam Pembelajaran
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan ChatGPT juga memunculkan tantangan etika yang semakin relevan dalam dunia pendidikan. Kemudahan memperoleh jawaban secara cepat membuat anak berpotensi menggunakan teknologi ini secara berlebihan tanpa memahami batasan penggunaan yang bertanggung jawab. Jika tidak diarahkan dengan tepat, ChatGPT dapat dipandang sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas, bukan sebagai sarana pendukung proses belajar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap berkurangnya makna pembelajaran yang seharusnya menekankan proses, bukan sekadar hasil.
Ketergantungan pada jawaban instan yang diberikan ChatGPT berpotensi mengurangi kemampuan berpikir mandiri anak. Proses belajar yang ideal menuntut anak untuk mengamati, menganalisis, dan menyusun jawaban berdasarkan pemahamannya sendiri. Tanpa pendampingan yang memadai, penggunaan AI dapat mengaburkan batas antara bantuan dan ketergantungan. Oleh karena itu, peran pendampingan menjadi sangat penting dalam menanamkan nilai kejujuran akademik, sekaligus membangun kesadaran bahwa setiap tugas memiliki tujuan pembelajaran yang perlu dilalui secara jujur dan bertanggung jawab.
Anak perlu memahami bahwa ChatGPT hanyalah alat bantu yang dirancang untuk mendukung proses belajar, bukan sumber kebenaran mutlak yang dapat menggantikan pemikiran manusia. Informasi yang dihasilkan tetap perlu dipahami, dikaji, dan disesuaikan dengan konteks pembelajaran. Proses belajar sejatinya menuntut keterlibatan aktif, seperti memahami konsep, mengaitkan informasi, serta melakukan refleksi terhadap apa yang dipelajari. Tanpa proses tersebut, penggunaan teknologi berisiko menjadikan pembelajaran bersifat dangkal dan kurang bermakna.
Isu etika penggunaan ChatGPT ini berkaitan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pembelajaran yang berintegritas dan berorientasi pada pengembangan karakter, serta SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya dalam membangun sikap tanggung jawab dan kejujuran dalam pemanfaatan teknologi. Penggunaan AI yang etis menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral.
Pendidikan etika digital menjadi langkah penting agar pemanfaatan ChatGPT tetap sejalan dengan nilai-nilai pendidikan. Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan penggunaan teknologi, tanggung jawab akademik, serta dampak jangka panjang dari kebiasaan belajar yang tidak jujur. Dengan pendekatan yang tepat, ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran yang konstruktif, tanpa mengorbankan nilai kejujuran, kemandirian, dan kualitas proses belajar.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa