Teknologi Canggih, Tapi Perlu Sikap yang Bijak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kemajuan teknologi bergerak lebih cepat dari kebiasaan berpikir manusia. Fitur baru muncul hampir setiap waktu. Banyak orang terpukau oleh kecanggihan. Namun kekaguman sering menutup kebutuhan akan kebijaksanaan. Literasi digital mengisi celah ini.
Menggunakan teknologi tanpa literasi ibarat mengemudi tanpa peta. Perjalanan terasa cepat, tetapi arah tak selalu jelas. Banyak keputusan digital diambil spontan. Literasi digital mengajarkan perencanaan. Ia membantu menentukan tujuan sebelum melangkah.
Di ruang daring, kebebasan berekspresi terasa luas. Siapa pun bisa berbicara. Namun kebebasan tanpa tanggung jawab melahirkan masalah. Literasi digital menanamkan etika berekspresi. Setiap suara perlu disampaikan dengan hormat.
Teknologi juga mempengaruhi cara belajar dan bekerja. Informasi instan memudahkan, tetapi bisa menumpulkan daya juang. Literasi digital menjaga keseimbangan antara bantuan dan ketergantungan. Ia mendorong usaha, bukan sekadar konsumsi.
Banyak orang merasa kehilangan fokus di tengah banjir distraksi. Notifikasi datang bertubi-tubi. Literasi digital membantu membangun disiplin diri. Mengatur kapan terhubung dan kapan berhenti. Kesadaran ini meningkatkan kualitas hidup.
Selain itu, literasi digital memperkuat daya tahan terhadap manipulasi. Iklan terselubung dan konten sponsor sering tidak disadari. Literasi digital membuka mata terhadap praktik ini. Pengguna menjadi lebih mandiri dalam mengambil keputusan.
Teknologi seharusnya memperkaya, bukan mengendalikan. Dengan literasi, manusia tetap memegang peran utama. Alat canggih berada di tangan yang sadar. Di situlah teknologi mencapai fungsi terbaiknya.
Akhirnya, melek digital adalah sikap, bukan sekadar kemampuan. Ia tumbuh dari kesadaran dan latihan terus-menerus. Teknologi boleh berubah, tetapi kebijaksanaan harus tetap dijaga.
Penulis: Resinta Aini Z.