Viral, Cepat, dan Sering Kali Tanpa Saring
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kata “viral” kini memiliki daya magis. Ia menjanjikan perhatian, pengakuan, dan popularitas singkat. Banyak konten dibuat demi mengejar angka tontonan. Kecepatan menjadi tujuan utama. Dalam situasi ini, literasi digital menjadi penyeimbang yang sering terlupakan. Konten viral sering hadir tanpa latar belakang yang jelas. Potongan kejadian disajikan seolah utuh. Penonton diajak bereaksi cepat, bukan berpikir mendalam. Literasi digital mengajak untuk memperlambat ritme. Ia mengingatkan bahwa kebenaran jarang sesederhana cuplikan.
Di platform seperti TikTok, tren datang dan pergi. Hari ini satu tantangan, besok tantangan lain. Banyak yang ikut tanpa memahami makna atau risikonya. Literasi digital menuntut kesadaran atas pilihan. Tidak semua tren perlu diikuti. Tidak semua yang ramai layak ditiru.
Kecepatan juga memengaruhi cara orang berkomunikasi. Komentar ditulis spontan, sering kali tanpa empati. Emosi diluapkan tanpa filter. Literasi digital mengajarkan etika berbahasa. Kata-kata di ruang digital tetap memiliki bobot. Dampaknya nyata, meski tak terlihat langsung.
Selain itu, literasi digital membantu memahami tujuan konten. Ada yang dibuat untuk edukasi, ada pula untuk provokasi. Tanpa literasi, keduanya tampak sama. Pengguna mudah terjebak dalam polarisasi. Dengan literasi, jarak kritis dapat dijaga.
Fenomena hoaks tumbuh subur di tengah budaya serba cepat. Judul sensasional lebih menarik daripada isi yang akurat. Banyak yang membagikan tanpa membaca tuntas. Literasi digital mengajarkan tanggung jawab berbagi. Setiap klik memiliki konsekuensi.
Ruang digital seharusnya menjadi ruang belajar bersama. Namun tanpa literasi, ia berubah menjadi arena kebisingan. Informasi saling bertabrakan tanpa arah. Literasi digital menata ulang ruang ini. Ia memberi struktur pada arus yang liar.
Pada akhirnya, melek digital berarti berani melawan arus kecepatan. Ia mengajak berpikir di tengah hiruk-pikuk. Dari situlah kualitas interaksi digital tumbuh. Bukan dari seberapa cepat viral, tetapi seberapa dalam makna yang dibawa.
Penulis: Resinta Aini Z.