AI, Anak, dan Makna Usaha yang Kian Kabur
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Usaha dalam belajar dulu identik dengan waktu yang dihabiskan dan kesabaran yang diuji. Kini, makna usaha mulai mengalami pergeseran seiring hadirnya AI. Anak dapat menyelesaikan tugas dengan cepat tanpa harus bergulat lama. Kecepatan ini sering disambut dengan rasa puas. Namun kepuasan tidak selalu sejalan dengan pemahaman. Di balik hasil yang tampak rapi, proses bisa menjadi tipis. Di sinilah makna usaha perlahan kabur.
Dalam keseharian, anak bisa merasa sudah berjuang hanya karena ia mengetik dan membaca jawaban. Aktivitas ini memang membutuhkan tindakan, tetapi berbeda dari usaha berpikir mendalam. Perbedaan ini sulit dirasakan oleh anak. Semua tampak seperti belajar. Padahal kualitas usaha menentukan kekuatan pemahaman. Tanpa disadari, standar usaha menurun.
Budaya digital saat ini ikut membentuk persepsi tersebut. Konten yang viral sering menonjolkan hasil instan. AI kemudian diposisikan sebagai alat untuk mencapai hasil itu. Anak menyerap pesan bahwa usaha tidak perlu panjang. Cukup tahu caranya, lalu selesai. Pola ini membentuk hubungan baru antara usaha dan hasil.
Meski demikian, AI juga dapat digunakan untuk memperjelas arti usaha. Dengan arahan yang tepat, anak bisa diajak melihat langkah-langkah berpikir. Jawaban tidak hanya dibaca, tetapi diurai. Proses ini mengembalikan peran usaha sebagai inti belajar. Namun tanpa pendampingan, potensi ini jarang terwujud. Usaha kembali dipersempit maknanya.
Kaburnya makna usaha berdampak pada sikap anak terhadap tantangan. Tantangan mudah dianggap sebagai gangguan. Rasa lelah berpikir dihindari. Anak terbiasa mencari jalan pintas. Dalam jangka panjang, ketahanan mental bisa melemah. Belajar kehilangan unsur perjuangannya.
Mengembalikan makna usaha tidak harus dengan menolak AI. Yang dibutuhkan adalah redefinisi. Usaha bukan soal lamanya waktu, tetapi kedalaman proses. Anak perlu diajak menyadari perbedaan ini. Percakapan sederhana dapat membuka pemahaman. AI kemudian menjadi alat bantu, bukan pengganti.
Pada akhirnya, belajar adalah tentang membentuk sikap terhadap usaha. AI bisa mempercepat, tetapi tidak boleh menghapus makna. Ketika usaha tetap dihargai, hasil memiliki arti. Anak pun tumbuh dengan pemahaman yang lebih kokoh. Di sanalah pendidikan menemukan arah yang seimbang.
Penulis: Resinta Aini Z.