Tutor Bayangan dan Masa Depan Cara Anak Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Masa depan belajar anak sedang dibentuk hari ini, sering kali tanpa disadari. AI hadir sebagai tutor bayangan yang menyatu dengan keseharian. Ia tidak datang dengan pengumuman besar, melainkan melalui kebiasaan kecil. Anak terbiasa bertanya pada layar sebelum mencoba sendiri. Kebiasaan ini tampak sepele. Namun kebiasaan adalah fondasi masa depan. Dari sanalah arah belajar ditentukan.
Tutor bayangan ini menawarkan efisiensi yang sulit ditolak. Waktu belajar menjadi singkat, hasil terlihat cepat. Dalam dunia yang menghargai kecepatan, hal ini terasa relevan. Namun masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan. Ia juga ditentukan oleh kedalaman dan ketahanan. Dua hal ini tidak selalu sejalan dengan jalan pintas.
Media sosial memberi gambaran masa depan belajar yang serba digital. Anak terlihat mandiri dengan perangkatnya. AI menjadi simbol kecanggihan dan kemajuan. Namun kemandirian sejati tidak lahir dari ketergantungan pada alat. Ia tumbuh dari kemampuan mengelola kesulitan. Tanpa latihan itu, kemandirian menjadi semu.
Di sisi lain, menolak AI sepenuhnya juga bukan pilihan bijak. Dunia anak akan terus berdampingan dengan teknologi. Yang perlu dibentuk adalah cara berinteraksi yang sehat. Anak perlu memahami bahwa AI adalah pendukung, bukan pengarah. Kesadaran ini menjadi bekal penting menghadapi masa depan.
Masa depan belajar juga menuntut kemampuan berpikir kritis dan reflektif. AI dapat menyediakan informasi, tetapi tidak menanamkan nilai. Nilai tentang kejujuran, usaha, dan empati harus ditanamkan melalui interaksi manusia. Tanpa nilai, kecerdasan kehilangan arah. Anak perlu keduanya untuk tumbuh utuh.
Pendampingan yang adaptif menjadi jembatan antara teknologi dan nilai. Anak diajak menggunakan AI dengan tujuan yang jelas. Bukan sekadar menyelesaikan tugas, tetapi memahami proses. Dengan pendekatan ini, tutor bayangan tidak menjadi ancaman. Ia menjadi bagian dari ekosistem belajar yang sehat.
Pada akhirnya, masa depan belajar anak tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya AI. Ia ditentukan oleh cara AI ditempatkan. Apakah sebagai alat bantu atau sebagai penentu. Pilihan ini sedang dibuat setiap hari melalui kebiasaan kecil. Dari sanalah masa depan itu perlahan terbentuk.
Penulis: Resinta Aini Z.