Layar, Anak, dan Tutor yang Tak Pernah Lelah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Layar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang belajar anak. Di balik layar itu, AI hadir sebagai tutor yang tidak pernah lelah. Ia siap kapan saja, tanpa nada tinggi atau raut kecewa. Anak merasa aman dan diterima. Keamanan emosional ini penting dalam belajar. Namun kehadiran tutor tanpa lelah membawa dinamika baru. Dinamika ini patut dicermati.
Dalam keseharian, tutor digital ini menawarkan konsistensi. Jawabannya selalu rapi, penjelasannya terstruktur. Anak tidak perlu menyesuaikan diri dengan suasana hati pengajar. Belajar terasa stabil dan terprediksi. Stabilitas ini bisa menenangkan. Namun belajar juga membutuhkan kejutan dan tantangan. Tanpa itu, minat bisa menurun.
Media sosial sering menggambarkan layar sebagai sahabat belajar. Video belajar di kamar dengan suasana tenang menjadi estetika tersendiri. AI menyatu dalam gambaran tersebut. Belajar tampak individual dan privat. Interaksi sosial jarang terlihat. Padahal pembelajaran juga tentang berbagi dan berdebat.
Tutor yang tak pernah lelah juga tidak pernah menunjukkan batas. Anak bisa bertanya berulang kali tanpa jeda. Hal ini menghilangkan rasa sungkan. Namun rasa sungkan terkadang mengajarkan empati dan kesadaran sosial. Belajar menghadapi orang lain berbeda dengan menghadapi mesin. Keduanya memberi pelajaran yang tidak sama.
Di sisi lain, kehadiran tutor digital dapat membantu anak yang sulit mengikuti ritme tertentu. Ia bisa belajar tanpa tekanan waktu. Pengulangan menjadi mungkin tanpa rasa malu. Ini adalah manfaat nyata yang tidak bisa diabaikan. Namun manfaat ini perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Konteks tentang perkembangan sosial dan emosional.
Ketika layar menjadi satu-satunya teman belajar, risiko isolasi meningkat. Anak bisa merasa cukup dengan dunia digitalnya sendiri. Interaksi nyata berkurang secara perlahan. Padahal kemampuan berkomunikasi tumbuh dari pertemuan langsung. Tanpa itu, pembelajaran menjadi timpang.
Pendampingan perlu memastikan bahwa layar bukan pengganti manusia. AI dapat melengkapi, bukan menggantikan. Anak perlu diajak berinteraksi, berdiskusi, dan berkolaborasi. Dengan begitu, belajar tetap seimbang. Teknologi tidak mengambil alih sepenuhnya.
Pada akhirnya, tutor yang tak pernah lelah hanyalah satu bagian dari ekosistem belajar. Ia bisa menjadi alat yang membantu atau justru membatasi. Pilihan itu bergantung pada cara digunakan. Ketika keseimbangan terjaga, layar tidak lagi menjadi sekat. Ia menjadi jendela yang memperluas pengalaman belajar.
Penulis: Resinta Aini Z.