Anak Sekolah Dasar dan Krisis Konsentrasi di Era Serba Cepat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Anak-anak sekolah dasar hari ini hidup dalam ritme yang jauh lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Informasi datang silih berganti melalui gawai, televisi, dan media sosial. Kondisi ini memengaruhi kemampuan konsentrasi anak dalam belajar. Guru sering mengeluhkan siswa yang mudah bosan dan sulit fokus. Pendidikan dasar menghadapi tantangan serius dalam menjaga perhatian anak.
Di ruang kelas, anak-anak terbiasa dengan stimulasi visual yang tinggi. Pembelajaran konvensional sering kalah menarik dibanding konten digital. Akibatnya, anak cepat kehilangan minat belajar. Guru harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan atensi siswa. Masalah ini tidak bisa disederhanakan sebagai kurang disiplin semata.
Krisis konsentrasi juga berkaitan dengan pola asuh dan lingkungan keluarga. Banyak anak kurang mendapatkan waktu berkualitas tanpa gawai. Interaksi sosial langsung semakin berkurang. Padahal, kemampuan fokus tumbuh melalui kebiasaan dan pendampingan. Pendidikan dasar tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga.
Sekolah dasar perlu merespons kondisi ini dengan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual. Aktivitas belajar harus melibatkan gerak, diskusi, dan eksplorasi. Anak-anak perlu diajak belajar secara aktif, bukan pasif. Pembelajaran yang bermakna membantu anak bertahan lebih lama dalam fokus. Ini menuntut kreativitas guru dan fleksibilitas kurikulum.
Menghadapi krisis konsentrasi, pendidikan dasar harus menyesuaikan diri dengan realitas zaman. Tujuannya bukan melawan teknologi, tetapi mengelolanya dengan bijak. Anak-anak perlu diajarkan mengatur perhatian mereka sendiri. Konsentrasi adalah keterampilan hidup yang penting. Sekolah dasar menjadi tempat awal membangunnya.
###
Penulis: Aida Meilina