Ancaman Kecanduan Gadget: Strategi Sekolah dan Orang Tua
Gawai (gadget) telah menjadi pedang bermata dua bagi siswa sekolah dasar. Di satu sisi, ia adalah gerbang menuju sumber informasi dan media pembelajaran yang tak terbatas. Di sisi lain, ia membawa ancaman serius berupa kecanduan yang berdampak buruk pada konsentrasi belajar, kesehatan mata, dan kemampuan bersosialisasi secara tatap muka. Banyak guru mengeluhkan siswa yang tampak lelah di kelas karena begadang bermain game atau menonton video.
Menghadapi realitas ini, sekolah dan orang tua dituntut untuk berkolaborasi merumuskan strategi pengelolaan waktu layar (screen time) yang efektif. Beberapa sekolah menerapkan aturan ketat "zona bebas gawai" di lingkungan sekolah dan mengintegrasikan pelajaran tentang etika digital dalam kurikulum. Sementara itu, di rumah, peran orang tua menjadi sentral dalam menetapkan batasan waktu, memfilter konten yang sesuai usia, dan yang terpenting, memberikan alternatif kegiatan non-digital yang menarik seperti olahraga, membaca buku, atau bermain di luar ruangan.
Tantangan terbesarnya adalah memberikan teladan. Seringkali, anak meniru kebiasaan orang tua yang juga tidak bisa lepas dari gawainya. Oleh karena itu, program edukasi tidak hanya ditujukan untuk siswa, tetapi juga untuk para orang tua. Tujuannya bukan untuk melarang teknologi, melainkan untuk membimbing anak-anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, seimbang, dan bertanggung jawab.