Antara Halaman Buku dan Layar Ponsel: Mampukah Literasi Tradisional Bertahan di Era Visual?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pertarungan
antara halaman buku fisik dan layar ponsel kini menjadi medan laga utama dalam
pembentukan karakter literasi siswa sekolah dasar di seluruh Indonesia. Dengan
rata-rata durasi penggunaan media sosial yang terus meningkat, waktu luang
anak-anak untuk membaca buku secara mandiri semakin tergerus oleh daya pikat
algoritma video pendek yang dirancang sangat personal. Isu ini menjadi sangat
krusial karena fondasi literasi yang dibangun di jenjang SD merupakan penentu
utama keberhasilan akademik di masa depan dan performa dalam asesmen
internasional seperti PISA. Pertanyaannya kemudian, mampukah literasi
tradisional yang mengandalkan teks dan imajinasi bertahan di tengah gempuran
budaya visual yang serba instan?
Salah
satu dampak yang paling mengkhawatirkan dari dominasi layar adalah hilangnya
kemampuan "Deep Reading" atau membaca mendalam pada anak-anak usia
dini. Saat membaca sebuah buku, otak melakukan proses konstruksi makna yang
kompleks, di mana anak harus membayangkan latar, emosi karakter, dan alur
cerita secara mandiri. Sebaliknya, saat menonton video pendek di layar ponsel,
semua proses imajinasi tersebut sudah disajikan secara matang oleh kreator
konten. Hal ini menyebabkan penurunan ketahanan mental siswa saat menghadapi
tantangan kognitif yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang, yang pada
akhirnya berdampak pada rendahnya capaian skor literasi dalam standar
internasional.
Secara
sosiologis, pergeseran dari buku ke layar juga mengubah cara anak-anak berinteraksi
dengan pengetahuan. Buku tradisional menawarkan struktur pemikiran yang
sistematis, dari awal hingga akhir, yang melatih logika berpikir runtut.
Sementara itu, layar ponsel menawarkan lompatan-lompatan informasi yang tidak
teratur, yang seringkali memutus rantai logika anak. Jika kecenderungan ini
dibiarkan, kita akan mendapati generasi yang memiliki pengetahuan luas namun
dangkal, mirip dengan hamparan laut yang luas tetapi kedalamannya hanya
setinggi mata kaki. Hal ini tentu menjadi lampu kuning bagi dunia pendidikan
kita yang sedang berupaya meningkatkan kualitas berpikir kritis.
Namun,
menganggap layar sebagai musuh mutlak literasi juga merupakan langkah yang
kurang bijak di era modern ini. Kenyataannya, teknologi digital juga menawarkan
aksesibilitas yang luar biasa terhadap berbagai literatur dunia yang sebelumnya
sulit dijangkau. Tantangannya terletak pada bagaimana kita bisa mengarahkan
siswa SD untuk menggunakan layar ponsel sebagai gerbang menuju buku, bukan
sebagai penggantinya. Literasi tradisional tidak harus mati; ia hanya perlu
beradaptasi dan menemukan cara baru untuk tetap relevan di mata anak-anak yang
lahir sebagai "digital natives" atau penduduk asli dunia digital.
Langkah
strategis yang dapat diambil oleh sekolah adalah dengan melakukan hibridisasi
literasi, yakni menggunakan minat siswa pada konten digital sebagai pintu masuk
menuju literasi teks. Sebagai contoh, jika seorang siswa tertarik pada konten
sains singkat di TikTok, guru bisa mengarahkannya untuk membaca buku referensi
yang membahas topik tersebut secara lebih ilmiah dan mendalam. Dengan demikian,
teknologi tidak lagi dianggap sebagai gangguan, melainkan sebagai katalisator
yang memicu rasa ingin tahu siswa untuk menggali informasi lebih dalam melalui
teks. Cara ini terbukti lebih efektif daripada sekadar melarang penggunaan
gawai secara total.
Peran
pustakawan dan kurator buku juga menjadi sangat vital dalam menjaga eksistensi
literasi tradisional. Perpustakaan sekolah harus diubah menjadi ruang yang
dinamis, di mana buku-buku disajikan dengan cara yang lebih menarik dan
terhubung dengan tren saat ini. Program ulasan buku dalam bentuk video pendek
atau kompetisi literasi digital bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kedua
dunia ini. Dengan memberikan ruang bagi kreativitas digital, siswa akan merasa
bahwa membaca buku tetap merupakan kegiatan yang keren dan tidak ketinggalan
zaman, meski mereka tetap aktif di media sosial.
Pada
akhirnya, masa depan literasi siswa SD di Indonesia bergantung pada kemampuan
kita untuk menyeimbangkan antara tradisi dan inovasi. Halaman buku memberikan
kedalaman dan ketenangan, sementara layar ponsel memberikan kecepatan dan
konektivitas. Keduanya memiliki tempat dalam perkembangan intelektual anak jika
dikelola dengan proporsional. Keberhasilan dalam asesmen PISA nantinya bukan
hanya soal angka, melainkan bukti bahwa anak-anak kita mampu menavigasi kedua
dunia tersebut dengan kecerdasan kritis yang mumpuni, menjadikan mereka
pembelajar sepanjang hayat yang tangguh.
###
Penulis:
Nur Santika Rokhmah