Beban Kuota dan Gizi: Pilihan Sulit di Keluarga Marginal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bagi banyak
keluarga siswa sekolah dasar di pinggiran Kota Surabaya yang hidup di bawah
garis kemiskinan, kebutuhan akan data internet untuk menunjang aktivitas
belajar kini sering kali berbenturan langsung dengan pemenuhan kebutuhan pangan
harian yang harganya kian melambung. Sebuah survei ekonomi pendidikan yang
dirilis awal tahun ini menunjukkan fenomena memprihatinkan di mana orang tua terpaksa
memprioritaskan pembelian paket data internet agar anak mereka tidak tertinggal
pelajaran digital, meskipun hal itu harus dibayar dengan pengurangan anggaran
untuk belanja protein dan gizi keluarga. Situasi dilematis ini menggambarkan
betapa biaya akses digital telah menjadi beban struktural baru yang secara
tidak langsung mengancam kualitas kesehatan fisik sekaligus daya fokus belajar
siswa dari kalangan bawah.
Secara fisiologis,
kurangnya asupan gizi akibat pengalihan anggaran keluarga untuk kuota internet
berdampak pada kemampuan kognitif anak dalam menyerap materi pelajaran yang
semakin kompleks. Ketika seorang siswa SD harus belajar menggunakan perangkat
digital dalam kondisi lapar atau kekurangan mikronutrisi, efektivitas teknologi
sebagai alat bantu belajar menjadi hilang sama sekali. Paradoks digital ini
menunjukkan bahwa kesenjangan akses bukan hanya soal sinyal, melainkan soal
daya dukung ekonomi yang memadai untuk menjaga keseimbangan antara nutrisi otak
dan konektivitas data. Mutu belajar pun merosot karena daya serap otak tidak
optimal, diperburuk oleh kecemasan orang tua yang merasa terbebani secara
finansial oleh tuntutan sekolah yang semakin berbasis daring.
Pemerintah memang telah
memberikan berbagai skema bantuan kuota, namun distribusi yang seringkali tidak
tepat sasaran dan mekanisme klaim yang rumit membuat masyarakat kecil tetap
harus merogoh kocek sendiri untuk tetap terhubung. Selain itu, banyak aplikasi
pembelajaran modern yang membutuhkan bandwidth besar, sehingga kuota bantuan
cepat habis dalam waktu singkat. Ketimpangan ini menciptakan lingkaran setan:
siswa yang kekurangan gizi harus belajar dengan perangkat seadanya dalam
lingkungan rumah yang stres secara ekonomi, sehingga hasil belajarnya tidak
akan pernah bisa mengejar siswa dari kalangan mampu. Isu kesenjangan digital
dalam konteks ini telah bergeser dari sekadar masalah teknis menjadi masalah
hak asasi manusia dan keadilan sosial yang sangat mendesak.
Lebih jauh lagi, biaya
pemeliharaan perangkat digital seperti perbaikan layar pecah atau penggantian
baterai yang menjadi momok menakutkan
bagi keluarga marginal. Seringkali, proses belajar siswa SD terhenti total
selama berminggu-minggu hanya karena satu-satunya ponsel di rumah tersebut
rusak dan tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Dalam sistem pendidikan yang
sangat bergantung pada digitalisasi, gangguan teknis kecil bagi keluarga miskin
adalah bencana akademik besar yang memicu ketertinggalan kurikulum secara
permanen. Inilah yang disebut dengan kerapuhan digital, di mana keberlanjutan
pendidikan seorang anak sangat bergantung pada kondisi fisik sebuah benda
elektronik yang rentan dan mahal perawatannya.
Dari perspektif sosiologi
ekonomi, fenomena "kuota vs gizi" ini menunjukkan bahwa digitalisasi
pendidikan yang tidak dibarengi dengan subsidi total bagi kalangan bawah justru
akan memperlebar jurang kemiskinan. Pendidikan yang seharusnya menjadi alat
mobilitas vertikal untuk keluar dari kemiskinan, justru menjadi beban tambahan
yang menekan kesejahteraan keluarga. Siswa yang lahir di keluarga prasejahtera
harus berjuang dua kali lebih keras: berjuang melawan rasa lapar dan berjuang
mencari sinyal atau biaya data. Jika mutu belajar diukur dengan standar yang
sama bagi semua siswa tanpa melihat latar belakang ekonomi ini, maka sistem
penilaian kita bisa dianggap tidak etis dan bias kelas.
Solusi yang dibutuhkan
bukanlah sekadar bantuan sosial sesaat, melainkan penyediaan akses internet
gratis sebagai utilitas publik di pemukiman padat penduduk serta penguatan
kembali fungsi perpustakaan sekolah sebagai pusat akses digital gratis yang
inklusif. Sekolah harus menjadi tempat di mana siswa bisa melepaskan beban
finansial digital keluarga mereka, bukan justru menjadi sumber beban baru
melalui instruksi-instruksi tugas yang boros kuota. Kebijakan pendidikan harus
peka terhadap realitas bahwa layar gawai tidak bisa menggantikan nutrisi piring
makan, dan keduanya merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya mutu belajar
yang berkualitas. Hanya dengan pendekatan holistik, kita dapat memastikan
digitalisasi tidak mengorbankan pertumbuhan fisik generasi masa depan.
Sebagai penutup, kita
harus meredefinisi apa yang dimaksud dengan "biaya pendidikan gratis"
di era digital ini. Selama kuota dan perangkat masih dibeli dengan memotong
anggaran susu dan telur, maka pendidikan kita belum benar-benar gratis bagi mereka
yang membutuhkan. Kesenjangan digital adalah cermin dari ketimpangan ekonomi
yang lebih luas, dan sekolah tidak boleh menjadi tempat yang memperparah luka
tersebut. Diperlukan keberanian kebijakan untuk memberikan perlindungan sosial
digital bagi keluarga marginal agar anak-anak mereka tetap bisa bermimpi besar
tanpa harus merasa bersalah atas setiap kilobita data yang mereka gunakan.
Nutrisi dan koneksi harus berjalan beriringan demi tegaknya martabat pendidikan
nasional.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah