Belajar dari Awan hingga Evakuasi: Pendidikan Cuaca Masuk Kurikulum SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pemerintah daerah resmi memasukkan pendidikan cuaca sebagai bagian dari kurikulum kebencanaan tingkat sekolah dasar. Langkah ini dilakukan untuk memberikan pemahaman awal mengenai kondisi atmosfer dan hubungannya dengan bencana alam. Kurikulum ini disusun dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh siswa usia 6–12 tahun.
Siswa diajarkan mengenali berbagai jenis awan, seperti cirrus, cumulus, dan cumulonimbus. Guru menjelaskan bahwa bentuk awan tertentu dapat menjadi tanda munculnya cuaca buruk. Media visual seperti poster dan video membantu memperjelas materi. Anak-anak terlihat sangat antusias mempelajari bentuk awan di langit.
Tidak hanya teori, siswa juga diperkenalkan pada praktik simulasi evakuasi bencana. Guru mengajarkan langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi angin kencang, hujan deras, atau gempa bumi. Simulasi dirancang menyerupai permainan agar siswa tidak merasa takut dan tetap belajar dengan suasana menyenangkan.
Sekolah menyediakan sudut pembelajaran cuaca yang dilengkapi dengan peta angin, peta hujan, dan alat pengukur sederhana. Siswa bebas mengamati dan mencatat perubahan cuaca setiap hari. Aktivitas ini membantu mereka memahami hubungan antara kondisi cuaca dan potensi bencana.
Dengan diterapkannya kurikulum ini, pemerintah berharap siswa memiliki pemahaman dasar mengenai keselamatan dan kesiapsiagaan. Pengetahuan ini diharapkan mampu mengurangi risiko korban jiwa saat terjadi bencana, terutama di wilayah rawan yang sering terdampak perubahan cuaca ekstrem.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah