Bukan AI yang Merusak Belajar tapi Cara Kita Menghindari Proses
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Narasi bahwa AI merusak belajar terdengar meyakinkan. Teknologi dianggap memanjakan dan melemahkan usaha. Namun narasi ini mengaburkan akar persoalan. Yang merusak belajar bukan AI. Yang merusak adalah kebiasaan menghindari proses. AI hanya menyediakan jalan pintas. Pilihan untuk mengambilnya sepenuhnya berada pada manusia. Dari pilihan ini, kualitas belajar terungkap.
Menghindari proses sering lahir dari budaya hasil instan. Proses dianggap membuang waktu. AI menjadi simbol efisiensi ekstrem. Namun efisiensi tanpa pemahaman menciptakan kekosongan. Kekosongan ini cepat atau lambat akan terasa. AI tidak bertanggung jawab atas kekosongan tersebut.
Proses belajar mengandung ketidaknyamanan. Kebingungan dan kesalahan adalah bagian darinya. AI menawarkan pelarian dari ketidaknyamanan ini. Ketika pelarian menjadi kebiasaan, kemampuan berpikir melemah. Proses yang dihindari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya ditunda.
Cara kita memandang kesulitan menentukan sikap terhadap AI. Jika kesulitan dianggap musuh, AI menjadi alat pelarian. Jika kesulitan dipandang sebagai peluang belajar, AI menjadi alat bantu. Perbedaan ini bersifat paradigmatik. Di sinilah integritas belajar diuji.
Menghindari proses juga berdampak pada rasa percaya diri intelektual. Ketergantungan pada AI mengikis keyakinan pada kemampuan sendiri. Individu mulai meragukan nalar pribadinya. Proses belajar seharusnya membangun kepercayaan diri. Tanpa proses, kepercayaan itu rapuh.
AI sebenarnya membuka kesempatan untuk memperdalam proses. Ia dapat digunakan untuk mengecek pemahaman. Ia bisa menjadi mitra dialog. Namun fungsi ini hanya muncul jika proses tetap dijalani. Tanpa proses, AI kehilangan nilai edukatifnya.
Pada akhirnya, bukan AI yang merusak belajar, melainkan kebiasaan menghindari proses. AI hanya mempercepat pilihan yang sudah ada. Dari pilihan inilah integritas belajar terbaca dengan jelas.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah