Dampak Psikologis Kesenjangan: Rasa Rendah Diri di Era Layar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Isu
kesenjangan digital pada siswa sekolah dasar ternyata memiliki dimensi
psikologis yang sangat mendalam, di mana siswa yang tidak memiliki perangkat
canggih mulai menunjukkan gejala rendah diri (inferiority complex) dan
kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial di sekolah. Di Makassar,
beberapa laporan dari konselor sekolah menunjukkan bahwa kecemburuan sosial
terkait merek dan spesifikasi gawai telah mengganggu fokus belajar serta
kesehatan emosional siswa dari keluarga prasejahtera. Teknologi, yang semula
diharapkan menjadi instrumen pemberdayaan dan pembebasan, justru menjadi simbol
status sosial baru yang sangat menyakitkan bagi anak-anak usia dini yang belum
memiliki kematangan emosional untuk memahami perbedaan ekonomi.
Kondisi psikologis ini
berdampak langsung pada motivasi intrinsik dan mutu belajar anak; siswa yang
merasa minder cenderung menjadi pasif dalam diskusi kelas yang melibatkan
elemen digital. Mereka merasa bahwa dunia teknologi dan inovasi bukanlah milik
mereka, sehingga timbul sikap apatis atau bahkan benci terhadap pelajaran yang
menggunakan metode modern. Rasa "tidak mampu" ini jika dibiarkan akan
mengkristal menjadi identitas diri yang permanen, menghambat mereka untuk
berani mencoba hal-hal baru di masa depan. Mutu belajar pun merosot bukan
karena keterbatasan intelegensi, melainkan karena hambatan mental yang
diciptakan oleh lingkungan belajar yang tidak sensitif terhadap ketimpangan
fasilitas.
Di ruang kelas, tekanan
sosial dari teman sebaya sering kali lebih kejam daripada keterbatasan fisik
itu sendiri. Siswa yang membawa ponsel lama atau bahkan tidak memiliki gawai
sering menjadi sasaran perundungan halus (subtle bullying) dalam bentuk
pengucilan dari grup belajar digital atau candaan mengenai kegagalan perangkat
mereka saat digunakan belajar bersama. Bagi anak SD, diterima oleh lingkungan
pergaulan adalah kebutuhan dasar, dan ketika teknologi menjadi syarat
penerimaan tersebut, siswa yang tertinggal digital akan mengalami isolasi
sosial. Isolasi ini memicu stres akademik yang berkepanjangan, menurunkan
tingkat kehadiran, dan pada akhirnya berdampak buruk pada nilai-nilai akademik
mereka di sekolah.
Guru dan pihak sekolah
sering kali kurang menyadari dimensi emosional ini karena terlalu fokus pada
pencapaian teknis digitalisasi. Padahal, tanpa rasa aman secara psikologis,
proses pembelajaran digital tidak akan pernah berjalan efektif bagi siswa yang
tertekan. Diperlukan pendekatan pendidikan karakter yang lebih kuat untuk
mengajarkan bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh benda elektronik
yang mereka miliki. Sekolah perlu menciptakan ruang-ruang di mana kreativitas
manual tetap dihargai setinggi kreativitas digital, sehingga siswa yang tidak
memiliki gawai tetap merasa memiliki kontribusi berharga dalam komunitas
kelasnya.
Pakar psikologi
pendidikan menyarankan agar sekolah menerapkan kebijakan "penggunaan gawai
komunal" di mana sekolah menyediakan perangkat yang digunakan bersama di
bawah kendali guru, daripada mewajibkan setiap siswa membawa gawai pribadi.
Langkah ini efektif untuk menetralisir rasa rendah diri karena semua siswa
menggunakan alat yang sama dengan kualitas yang sama saat di sekolah. Selain
itu, kegiatan kolaboratif yang menggabungkan aspek digital dan fisik dapat
membantu memecah sekat-sekat sosial yang terbentuk akibat perbedaan kepemilikan
teknologi. Sekolah harus menjadi tempat yang menyatukan, bukan tempat yang
memamerkan perbedaan melalui layar-layar gawai.
Selain itu, pendampingan
dari guru bimbingan konseling (BK) perlu ditingkatkan untuk membantu siswa yang
mengalami krisis kepercayaan diri akibat kesenjangan digital ini. Program
literasi emosional digital harus diberikan tidak hanya kepada siswa, tetapi
juga kepada orang tua agar mereka tidak menaruh beban ekspektasi yang terlalu
tinggi tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Membangun resiliensi mental pada
anak-anak dari keluarga kurang mampu di era digital adalah tugas mendesak agar
mereka tetap memiliki semangat juang untuk berprestasi. Kualitas pendidikan
harus diukur dari kesejahteraan emosional siswanya, bukan hanya dari kemahiran
mereka mengklik tombol-tombol di layar.
Sebagai kesimpulan,
kesenjangan digital adalah masalah kemanusiaan yang membutuhkan solusi dari
hati, bukan hanya solusi teknis. Kita harus memastikan bahwa kemajuan teknologi
tidak menghancurkan rasa percaya diri generasi masa depan kita. Pendidikan ramah
lingkungan digital adalah pendidikan yang merangkul semua anak, tanpa
mempedulikan apa yang ada di saku mereka. Rasa rendah diri di era layar harus
segera diatasi dengan kebijakan yang lebih empatik dan inklusif. Hanya dengan
menjaga kesehatan mental siswa, kita dapat menjamin mutu belajar yang sejati
dan berkelanjutan bagi seluruh anak Indonesia.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah