Dampak Sosio-Emosional: Mengapa Tutor Bayangan Tak Bisa Gantikan Interaksi Guru-Murid
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Meskipun AI dapat bertindak sebagai
"tutor bayangan" yang sangat pintar dalam hal kognitif dan mampu
menjawab soal dalam hitungan milidetik, teknologi ini memiliki kekosongan total
dalam hal kecerdasan emosional. Bagi siswa sekolah dasar, belajar bukan sekadar
proses mekanis menyerap data ke dalam memori, tetapi juga tentang mendapatkan
validasi, dukungan moral, dan inspirasi hidup dari sosok dewasa yang nyata. Isu
ini menjadi sangat krusial di tengah tren digitalisasi pendidikan yang massif,
di mana interaksi manusiawi yang hangat sering kali terpinggirkan demi mengejar
efisiensi transfer informasi yang kaku.
Seorang guru SD yang
berpengalaman dapat melihat kesedihan atau keraguan di mata muridnya dan secara
intuitif memutuskan untuk menunda pelajaran sejenak demi memberikan dukungan
emosional yang dibutuhkan. AI tidak memiliki hati nurani untuk memahami bahwa
seorang anak mungkin gagal paham karena masalah di rumah, bukan karena
kurangnya data penjelasan. Hubungan batin antara guru dan murid inilah yang
menjadi bahan bakar utama bagi motivasi belajar anak, yang membuat mereka
merasa berharga, didengar, dan dicintai di lingkungan sekolahnya.
Analisis mendalam
terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa keterampilan sosial seperti kerja
sama tim, empati, serta resolusi konflik hanya bisa dipelajari melalui
interaksi nyata yang sering kali dinamis dan "berantakan". Anak yang
terlalu nyaman berinteraksi dengan "tutor bayangan" digitalnya
mungkin akan kehilangan kepekaan sosial karena mesin selalu setuju, selalu
sabar, dan tidak pernah menuntut timbal balik emosional. Kematangan sosial ini
sangat berisiko terhambat jika anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan
layar daripada berdiskusi dengan teman sebaya atau berdebat sehat dengan
gurunya.
Ketergantungan pada
asisten cerdas juga berpotensi menciptakan rasa kesepian intelektual di mana
anak merasa belajar adalah aktivitas yang terisolasi antara dirinya dan mesin.
Padahal, esensi dari ruang kelas adalah komunitas pembelajar di mana anak-anak
saling terinspirasi oleh keberhasilan teman dan belajar dari kesalahan orang
lain. Interaksi tatap muka memberikan stimulasi dopamin sosial yang positif
yang tidak bisa diberikan oleh antarmuka chat yang steril, sesopan apa pun
bahasa yang digunakan oleh algoritma tersebut dalam memberikan penjelasan.
Pendidikan dasar juga
merupakan masa di mana anak mencari figur teladan (role model) untuk
pembentukan karakter dan jati diri mereka. AI, sebagai entitas non-biologis,
tidak bisa memberikan teladan mengenai integritas, kegigihan dalam menghadapi
kegagalan, atau etika dalam berkomunikasi secara nyata. Murid membutuhkan sosok
guru yang bisa menunjukkan bagaimana cara bersikap saat marah, bagaimana cara
meminta maaf, dan bagaimana cara menghargai orang lain, hal-hal fundamental
yang tidak tercantum dalam modul pengetahuan teknis tutor bayangan.
Oleh karena itu,
kehadiran AI harus diposisikan secara tegas hanya sebagai alat pendukung teknis
di luar jam sekolah, sementara jam sekolah tetap harus menjadi domain interaksi
manusiawi yang intensif. Guru harus didorong untuk menghabiskan lebih banyak waktu
dalam memfasilitasi diskusi dan bimbingan karakter daripada sekadar memberikan
ceramah materi yang sebenarnya bisa diakses anak lewat AI. Dengan cara ini,
teknologi membantu guru membebaskan waktu untuk peran yang lebih penting, yaitu
menjadi pendamping jiwa dan mentor moral bagi pertumbuhan masa depan siswa.
Sebagai kesimpulan,
secanggih apa pun "tutor bayangan" digital berkembang, ia tetap tidak
akan pernah bisa menggantikan pelukan semangat, tatapan bangga, dan bimbingan
bijak dari seorang guru manusia. Pendidikan adalah proses mentransfer nilai-nilai
kemanusiaan, dan nilai tersebut hanya bisa hidup serta mengalir melalui
keteladanan nyata, bukan melalui barisan perintah kode algoritma. Mari kita
jaga agar sekolah tetap menjadi tempat yang manusiawi, di mana interaksi antar
manusia tetap menjadi jantung dari setiap proses transformasi intelektual dan
spiritual anak bangsa.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah