Etnopedagogi Berkelanjutan di Pendidikan Dasar
Etnopedagogi
Berkelanjutan di Pendidikan Dasar
Oleh: Neni Mariana,
Ph.D.
Etnopedagogi merupakan salah satu penciri khusus dari S1 PGSD, S2 Pendidikan Dasar, dan S3 Pendidikan Dasar. Pada jenjang S1 PGSD Unesa, mahasiswa dibekali dengan spesifikasi keilmuan etnopedagogi pada disiplin ilmu tertentu seperti misalnya etnosains dan etnomatematika. Di jenjang S2 Pendidikan Dasar Unesa, materi etnopedagogi dibuat secara umum dan digandengkan dengan ide sustainability yang membahas prinsip-prinsip SDGs (Sustainable Development Goals). Prinsip-prinsip SDGs dibahas untuk merefleksikan keselarasan peran kultur yang dipilih mahasiswa dalam menyokong poin-poin SDGs.
Etnopedagogi sendiri secara bahasa terdiri dari dua kata yakni etno dan pedagogi. Etno berasal dari Bahasa Inggris ethno yang artinya sekelompok komunitas yang memiliki kultur, dan pedagogi berasa dari Bahasa Inggris pedagogy yang artinya proses mendidik. Sehingga, etnopedagogi bisa diartikan sebagai sebuah pendekatan Pendidikan yang meilbatkan kultur sebagai faktor terpenting pada proses belajar mengajar. Istilah ethnopedagogy pertama kali dimunculkan oleh Henry G. Burger di dalam disertasinya pada tahun 1968. Burger (1968) memunculkan ide etnopedagogi sebagai antropolog untuk mengaplikasikan etnologi pendidikan dan menjadi etnopedagogi sebagai metode pendidikan lintas kultur.
Dalam perkembangannya etnopedagogi diintegrasikan dengan disiplin ilmu lain. Di tahun 1985 D’Ambrosio dari Brazil merumuskan etnomatematika sebagai munculnya pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran matematika. Sebelumnya di tahun 1984, Morey dan Luthans mengenalkan terminologi ethnoscience sebagai pendekatan dalam metode penelitian kualitatif. Kemudian bermunculan terminology lain semisal etnomusikologi atau etnolinguistik yang pada akhirnya semua jenis etno-disiplin ilmu itu bermuara pada penanaman/pengenalan kultur dalam pembelajaran.
Proses etnopedagogi
dalam perkuliahan di S2 Pendidikan Dasar FIP Unesa dilakukan secara reflektif
dan praksis kritis. Mahasiswa melakukan refleksi terhadap kultur diri yang
dominan menjadi pola pandang, gaya hidup, dan hegemoni yang dipraktekkan dalam
kehidupannya sehari-hari. Melalui refleksi tersebut, mahasiswa secara kritis
memilih narasi yang sesuai dan mengandung pembelajaran disiplin ilmu tertentu
yang terkait dengan Pendidikan dasar atau ke-SD-an. Kemudian, mahasiswa
menganalisis praksis kultural yang telah dipilih dan dinarasikan tadi untuk
bisa dieksplorasi topik-topik atau materi pada disiplin ilmu terkait yang ada
di SD. Sehingga secara praktis bisa disimpulkan Langkah-langkah untuk
menerapkan etnopedagogi di pendidikan adalah sebagai berikut:
- Melakukan
refleksi kultural
- Menarasikan
kultur pilihan yang terkait secara pedagogis dengan pembelajaran
- Mengeksplorasi
topik-topik atau materi bidang ilmu dalam narasi tersebut
- Mencari keterkaitan topik dengan kompetensi dasar atau capaian pembelajaran yang sesuai di kurikulum
- Mengemas pembelajaran berbasis kultur tersebut pada materi terkait
Sedangkan poin SDGs
dalam mata kuliah ini menguatkan refleksi kultural yang dilakukan dan menjadi
semacam filter terhadap hegemoni kultur yang dialami. Dalam teori kultur yang
dikemas oleh Hong dkk (2000), kultur merupakan dimensi yang bersifat dinamis
dan mengalami perubahan dari masa ke masa seiring dengan dinamika peradaban
manusia.
Sejak
dicanangkannya 17 poin SDGs oleh PBB, dunia pendidikan turut serta menggunakan
poin-poin SDGs tersebut sebagai tujuan dari pendidikan yang ingin dicapai
bersama. Namun seringkali, beberapa implementasi kultur bertentangan dengan
prinsip-prinsip yang ada pada SDGs. Beberapa pelaksanaan kepercayaan di
masyarakat misalnya, menyalahi prinsip-prinsip SDGs dan mereduksi fleksibilitas
kultur yang bersifat dinamis. Sehingga pada poin ini, mahasiswa diajak untuk
tidak hanya memahami dan menghargai kultur yang selama ini ada dan dijalankan
di masyarakat sekitarnya, namun mereka juga diajak untuk bisa lebih kritis
mendalami sumbangsih kultur tersebut terhadap poin-poin SDGs dan mengemasnya
dalam ide-ide implementasi keunikan kultur yang tidak bertentangan atau bahkan
mendukung tercapainya tujuan bersama.
Daftar Pustaka
Burger, H. G. (1968). Ethno-pedagogy:
a Manual in Cultural Sensitivity: with techniques for improving cross-cultural
teaching by fitting ethnic patterns (No. 2-768). Albuquerque:
Southwestern Cooperative Educational Laboratory.
d'Ambrosio, U. (1985).
Ethnomathematics and its place in the history and pedagogy of
mathematics. For the learning of Mathematics, 5(1),
44-48.
Hong, Y. Y., Morris, M. W.,
Chiu, C. Y., & Benet-Martinez, V. (2000). Multicultural minds: A dynamic
constructivist approach to culture and cognition. American psychologist, 55(7),
709.
Morey, N. C., & Luthans,
F. (1984). An emic perspective and ethnoscience methods for organizational
research. Academy of Management Review, 9(1), 27-36.