Jebakan Angka dan Ilusi Kecerdasan dalam Standar Penilaian Pendidikan Tinggi Modern
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia pendidikan tinggi modern saat ini tengah terjebak dalam pemujaan terhadap angka-angka statistik yang sering kali bersifat semu. Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi sering kali dianggap sebagai representasi tunggal dari kecerdasan dan kemampuan seseorang dalam menguasai disiplin ilmu. Padahal, angka hanyalah simbol kuantitatif yang tidak selalu mampu menangkap kompleksitas kualitas intelektual dan kedalaman berpikir mahasiswa. Ilusi kecerdasan ini tercipta ketika proses penilaian lebih mengedepankan aspek hafalan dan kepatuhan administratif daripada analisis kritis. Akibatnya, banyak lulusan yang tampak gemilang dalam dokumen resmi namun gagap ketika menghadapi realitas problematika keilmuan yang sesungguhnya.
Fenomena ini mencerminkan adanya degradasi filosofis dalam tujuan pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia dan mengasah daya nalar. Standarisasi yang terlalu kaku menyebabkan kreativitas mahasiswa terbelenggu demi mengejar target angka yang ditentukan oleh sistem. Mahasiswa menjadi lebih peduli pada taktik mendapatkan nilai tinggi daripada memahami hakikat ilmu yang sedang dipelajari dalam perkuliahan. Paradigma ini sangat berbahaya karena menciptakan generasi yang memiliki mentalitas "pemburu nilai" bukan "pemburu ilmu" yang haus akan kebenaran. Tanpa adanya perubahan paradigma, pendidikan tinggi hanya akan menghasilkan teknokrat yang bekerja seperti robot tanpa nurani dan kedalaman logika.
Erosi standar akademik ini juga berdampak pada kredibilitas gelar sarjana yang disematkan kepada para lulusan perguruan tinggi. Masyarakat mulai meragukan korelasi antara gelar yang disandang dengan kemampuan nyata yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap orang bisa mendapatkan nilai maksimal dengan usaha yang minimal, maka nilai tersebut tidak lagi memiliki makna pembeda. Standar yang rendah secara perlahan namun pasti akan menghancurkan sistem meritokrasi yang menjadi pilar kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan seharusnya menjadi sarana transformasi diri yang menantang mahasiswa untuk melampaui batas kemampuan intelektual mereka secara jujur.
Intervensi teknologi dalam sistem penilaian juga turut berperan dalam menciptakan jebakan angka yang semakin rumit bagi para pendidik. Penggunaan platform pembelajaran digital terkadang memudahkan mahasiswa untuk melakukan kecurangan akademik yang terselubung demi mengejar angka sempurna. Dosen sering kali kesulitan memverifikasi keaslian karya mahasiswa di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan dan sumber informasi instan. Oleh sebab itu, metode penilaian harus segera berevolusi dari sekadar ujian tulis menjadi penilaian berbasis proyek dan portofolio. Penilaian yang autentik akan lebih mampu menggambarkan kapasitas mahasiswa yang sebenarnya dalam memecahkan masalah yang nyata.
Untuk memecahkan ilusi kecerdasan ini, perguruan tinggi harus berani melakukan dekonstruksi terhadap sistem penilaian yang selama ini dianut secara kaku. Penghargaan terhadap proses belajar, ketekunan, dan kejujuran harus diletakkan lebih tinggi daripada sekadar hasil akhir berupa angka. Mahasiswa perlu didorong untuk berani melakukan kesalahan dalam proses belajar sebagai bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam. Komunikasi yang efektif antara dosen dan mahasiswa mengenai kriteria keberhasilan belajar harus dibangun berdasarkan asas transparansi dan akuntabilitas. Hanya dengan melampaui jebakan angka, kita dapat melahirkan generasi cerdas yang sesungguhnya bagi masa depan bangsa.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.