Kedaulatan Berpikir: Risiko De-Skilling Mahasiswa Akibat Ketergantungan AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah euforia digitalisasi kampus, sebuah pertanyaan kritis muncul dari lorong-lorong perpustakaan universitas: apakah mahasiswa masih benar-benar belajar saat semua jawaban tersedia hanya dengan sekali klik? Gerakan AI masuk ke ruang kuliah di awal tahun 2026 ini membawa risiko nyata berupa de-skilling, sebuah kondisi di mana keterampilan kognitif dasar mahasiswa melemah akibat jarang digunakan. Mahasiswa pascasarjana yang seharusnya menjadi lokomotif riset kini dikhawatirkan hanya menjadi kurator teks otomatis, yang mengakibatkan penurunan ketajaman analisis terhadap isu-isu sosial dan saintifik yang kompleks.
Proses menulis tesis, misalnya, adalah sebuah perjalanan intelektual yang melatih kemampuan sintesis dan argumentasi logis. Namun, dengan hadirnya AI yang mampu menyusun tinjauan pustaka secara otomatis, tahap "pencernaan literatur" seringkali terlewati begitu saja. Fakta riset menunjukkan bahwa proses menulis secara manual berkorelasi positif dengan penguatan memori dan koneksi saraf di otak. Ketika tahap ini digantikan oleh mesin, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk membangun jaringan konsep yang mendalam di dalam pikiran mereka sendiri, yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas diskusi akademik di ruang-ruang kuliah.
Kekhawatiran utama para promotor doktor adalah hilangnya "suara orisinal" dalam karya ilmiah mahasiswa. AI cenderung menghasilkan teks yang bersifat normatif, rata-rata, dan seringkali hambar karena basis datanya yang berasal dari probabilitas statistik. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI akan kehilangan gaya bahasa pribadi dan ketajaman opini yang seharusnya menjadi ciri khas seorang intelektual. Belajar bukan hanya soal mentransfer data dari satu tempat ke tempat lain, melainkan soal membentuk perspektif unik terhadap dunia—sebuah kapasitas yang hingga kini belum bisa ditiru sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.
Selain itu, ketergantungan pada AI menciptakan kerentanan intelektual di mana mahasiswa tidak lagi mampu melakukan verifikasi mandiri. Fenomena "kebenaran otoritas mesin" membuat mahasiswa jarang mempertanyakan hasil yang diberikan oleh chatbot. Padahal, integritas ilmiah menuntut keraguan metodologis sebagai dasar penemuan kebenaran. Jika mahasiswa menerima begitu saja narasi yang disusun AI, maka ruang kuliah hanya akan menjadi tempat pengulangan dogma digital, bukan laboratorium pemikiran merdeka yang kritis dan skeptis terhadap kemapanan informasi.
Sudut pandang dari pakar sosiologi pendidikan mengingatkan bahwa AI dapat memperlebar kesenjangan kualitatif antara mahasiswa yang "memanfaatkan" AI dan mahasiswa yang "didominasi" AI. Mahasiswa yang memiliki literasi digital tinggi dan dasar ilmu yang kuat akan menggunakan AI sebagai akselerator, sementara mereka yang lemah akan menjadikannya tongkat penyangga yang membuat kaki intelektual mereka semakin lumpuh. Tanpa intervensi pedagogis yang tepat, universitas berisiko meluluskan sarjana yang tampak kompeten di layar, namun gagap saat harus berargumen secara spontan di depan publik.
Transformasi sistem penilaian menjadi satu-satunya jalan keluar untuk memastikan mahasiswa tetap belajar secara autentik. Dosen kini dituntut untuk merancang tugas yang bersifat kontekstual, berbasis lapangan, atau ujian lisan yang menuntut kemampuan berpikir cepat tanpa perangkat digital. Hal ini penting untuk memisahkan mana pengetahuan yang benar-benar terinternalisasi dan mana yang hanya merupakan hasil generate sesaat. Belajar di era AI harus kembali ke akar, yaitu interaksi manusiawi yang menekankan pada kedalaman rasa, nalar, dan etika yang tidak dimiliki oleh baris-baris kode.
Penutupnya, kehadiran AI di ruang kuliah harus disikapi dengan kewaspadaan intelektual yang tinggi agar tidak terjadi erosi kognitif masal. Mahasiswa harus diingatkan bahwa teknologi adalah pembantu, bukan pengganti proses berpikir. Belajar sejati adalah sebuah perjuangan internal untuk memahami esensi, dan perjuangan itu tidak boleh didelegasikan kepada mesin. Jika kedaulatan berpikir hilang, maka esensi dari pendidikan tinggi sebagai pencetak pemikir bangsa pun akan turut runtuh di bawah bayang-bayang algoritma.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah