Laboratorium Alam: Mengintegrasikan Pertanian Urban dalam Sekolah Rakyat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bagaimana cara mengajarkan sains yang paling membekas di ingatan siswa SD? Jawabannya ditemukan di "Laboratorium Alam" Sekolah Rakyat, di mana pertanian urban (urban farming) menjadi pusat pembelajaran keterampilan biologi dan ekologi sejak dini. Sejak awal tahun ajaran 2024, banyak sekolah dasar mulai merombak lahan sempit mereka menjadi kebun produktif untuk menjawab tantangan krisis pangan dan memudarnya kedekatan anak-anak perkotaan dengan alam, sekaligus membangun etos kerja yang disiplin melalui rutinitas bercocok tanam.
Secara teoritis, berinteraksi langsung dengan tanah dan tanaman merupakan prasyarat utama agar otak anak dapat memasuki fase "siap belajar" melalui stimulasi sensorik yang kaya. Ketika seorang siswa merawat benih hingga panen, tingkat hormon kortisol menurun karena kedekatan dengan alam (biophilia effect). Data menunjukkan bahwa sekolah dengan program kebun aktif memiliki angka stres siswa yang lebih rendah dan asupan gizi yang lebih baik dari hasil panen sendiri, menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara fisik dan psikologis.
Analisis terhadap perilaku siswa menunjukkan bahwa pertanian urban bertindak sebagai "jangkar" tanggung jawab yang melatih kesabaran anak. Rutinitas seperti menyiram tanaman, memantau pertumbuhan, dan menangani hama mengajarkan bahwa keberhasilan memerlukan proses panjang dan ketekunan yang konsisten. Pembiasaan ini tidak lagi dipandang sebagai aturan yang mengekang, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap mahluk hidup lain. Siswa belajar bahwa kenyamanan lingkungan mereka sangat bergantung pada kedisiplinan kolektif dalam menjaga ekosistem kebun sekolah.
Peran guru dalam laboratorium alam ini adalah sebagai rekan kerja sekaligus mentor ekologi yang konsisten dalam setiap tindakan. Guru yang membiasakan diri berkotor ria dengan tanah tanpa rasa risih sedang mengajarkan nilai kerendahan hati dan penghargaan terhadap profesi petani. Keteladanan ini sangat ampuh karena anak cenderung meniru tindakan nyata daripada sekadar mendengarkan penjelasan teoritis tentang fotosintesis. Lingkungan yang nyaman tercipta ketika siswa melihat adanya sinkronisasi antara apa yang diajarkan dalam sains dan apa yang mereka tanam sendiri di lapangan.
Inovasi dalam kurikulum pertanian ini juga mulai melibatkan teknologi melalui sistem "Smart Garden" sederhana yang menggunakan sensor kelembapan tanah rakitan siswa. Hal ini mengubah paradigma pertanian dari yang semula dianggap kuno menjadi bidang yang futuristik dan berbasis data. Pengakuan atas keberhasilan panen memberikan penguatan positif yang sangat dibutuhkan anak untuk membentuk identitas sebagai pribadi yang mampu memberi manfaat bagi bumi. Sistem ini memastikan bahwa sekolah yang hijau bukan hasil dari perintah, melainkan dari keinginan intrinsik siswa.
Sinergi dengan orang tua menjadi kunci keberlanjutan program ini melalui kampanye "Kebun Keluarga" di rumah masing-masing. Sekolah kini aktif melakukan pembagian bibit kepada wali murid agar pola konsumsi sayuran sehat di rumah memiliki kesinambungan dengan apa yang ditanam di sekolah. Dialog rutin antara guru dan orang tua mengenai kecintaan anak pada lingkungan memastikan bahwa proses pendidikan karakter berlangsung secara menyeluruh. Tanpa dukungan orang tua, laboratorium alam di sekolah hanya akan menjadi pajangan visual tanpa makna mendalam bagi anak.
Sebagai penutup, integrasi pertanian urban dalam Sekolah Rakyat adalah kunci utama yang membuka pintu bagi kesadaran ekologis generasi masa depan. Kita harus menyadari bahwa menciptakan sekolah yang hebat memerlukan pemulihan hubungan antara raga anak dan alam sekitarnya melalui kebiasaan baik yang konsisten. Sekolah dasar harus menjadi oase yang hijau dan menyejukkan, di mana setiap anak belajar menghormati proses alam dan keajaiban kehidupan. Mari kita jadikan laboratorium alam sebagai denyut nadi pendidikan kita, demi melahirkan generasi emas yang tangguh secara mental dan mencintai bumi dengan karakter mulia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah