Membaca Perlahan di Dunia Serba Cepat Ketika Literasi Bertabrakan dengan Algoritma
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Dunia digital hari ini
bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. TikTok menjadi
simbol paling nyata dari perubahan tersebut dengan aliran video singkat yang
nyaris tanpa jeda. Setiap detik perhatian ditarik ke arah baru, meninggalkan
sedikit ruang untuk berhenti dan berpikir. Dalam situasi ini, membaca perlahan
terasa seperti aktivitas yang melawan arus zaman. Hasil PISA yang menunjukkan
lemahnya pemahaman bacaan seolah mengonfirmasi dampak budaya ini. Literasi
membaca tidak runtuh karena orang tidak bisa membaca, melainkan karena mereka
jarang diberi waktu untuk memahami. Algoritma membentuk kebiasaan kognitif yang
serba cepat. Pertanyaan besarnya adalah apakah membaca mendalam masih memiliki
tempat.
PISA menilai kemampuan mengolah makna dan menarik kesimpulan dari teks.
Kemampuan ini menuntut konsentrasi berkelanjutan. Budaya skrol cepat justru
melatih otak untuk berpindah sebelum makna terbentuk. Akibatnya, membaca
menjadi aktivitas permukaan. Teks diperlakukan seperti konten singkat lain yang
bisa ditinggalkan kapan saja. Pemahaman pun terfragmentasi.
Algoritma bekerja berdasarkan atensi, bukan refleksi. Konten yang memancing
emosi lebih diutamakan. Dalam ekosistem ini, bacaan panjang kalah bersaing.
Literasi menghadapi tekanan struktural yang tidak kasatmata. Membaca bukan lagi
kebutuhan, melainkan pilihan yang menuntut usaha ekstra.
Namun membaca perlahan bukanlah praktik usang. Ia justru menjadi
keterampilan yang semakin bernilai. Di tengah banjir informasi, kemampuan
memilah dan memahami menjadi pembeda. Literasi membaca memberi kedalaman pada
pengetahuan. Tanpa itu, informasi hanya menjadi deretan fakta tanpa makna.
Teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung membaca mendalam.
Diskusi daring dan komunitas baca digital menunjukkan potensi ini. Tantangannya
adalah menggeser orientasi dari konsumsi cepat ke pemahaman. Membaca perlu
dikaitkan dengan pengalaman dan refleksi. Dengan cara ini, literasi tetap
relevan.
Budaya skrol cepat tidak bisa dihapus, tetapi dapat diseimbangkan. Membaca
perlahan perlu dilatih secara sadar. Ruang tanpa gangguan menjadi penting.
Kesadaran ini harus dibangun secara kolektif. Tanpa itu, literasi akan terus
tergerus.
Pada akhirnya, membaca perlahan adalah bentuk perlawanan intelektual. Ia menuntut keberanian untuk berhenti sejenak. Di era algoritma, keputusan untuk memahami menjadi tindakan bermakna. Dari sinilah literasi membaca dapat dipulihkan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah