Mencari Roh Humanisme dalam Arus Mekanisasi Pendidikan Nasional
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Arus mekanisasi pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi administratif sering kali mengabaikan esensi paling mendasar dari proses belajar, yaitu kemanusiaan. Saat ini, keberhasilan pendidikan lebih sering diukur melalui indikator statistik yang kaku dan pencapaian target kurikulum yang sangat padat. Hal ini mengakibatkan interaksi antara guru dan murid menjadi kering karena terjebak dalam rutinitas pemenuhan dokumen-dokumen formal semata. Kita perlu melakukan refleksi mendalam untuk menemukan kembali roh humanisme yang mungkin telah hilang dalam sistem pendidikan nasional kita. Pendidikan seharusnya menjadi proses memanusiakan manusia, bukan sekadar
memproduksi tenaga kerja yang siap pakai untuk kepentingan industri tertentu. Mengembalikan sentuhan manusiawi dalam setiap proses pembelajaran adalah langkah awal untuk memperbaiki kualitas moral dan intelektual generasi penerus bangsa.
Humanisme dalam pendidikan berarti menempatkan peserta didik sebagai subjek yang memiliki perasaan, cita-cita, dan keunikan individu yang harus dihormati. Setiap anak memiliki kecepatan belajar dan minat yang berbeda-beda, sehingga pendekatan yang bersifat generalis sering kali justru mematikan potensi kreatif mereka. Kita tidak boleh membiarkan standarisasi nilai menjadi tembok penghalang bagi munculnya bakat-bakat unik yang tidak terakomodasi dalam sistem ujian nasional. Pendidikan yang humanis mendorong terciptanya suasana belajar yang aman, nyaman, dan penuh dengan rasa saling menghargai antarsemua warga sekolah. Dalam lingkungan yang demokratis, siswa akan lebih berani mengungkapkan pendapat dan mengeksplorasi kemampuan diri tanpa rasa takut akan kegagalan. Inilah yang akan membentuk mentalitas tangguh dan kepribadian yang utuh bagi para calon pemimpin masa depan yang kita harapkan.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan memegang peranan vital dalam menghidupkan kembali nilai-nilai humanis di dalam ruang-ruang kelas yang mulai dingin. Peran guru tidak boleh digantikan oleh mesin atau aplikasi secanggih apa pun karena mesin tidak memiliki empati dan nurani. Kehadiran guru yang mampu mendengarkan keluh kesah siswa dan memberikan motivasi secara tulus adalah bentuk nyata dari pendidikan yang memanusiakan. Tantangan profesi guru saat ini adalah bagaimana tetap menjadi sosok yang inspiratif di tengah tuntutan beban kerja administratif yang semakin berat. Pemerintah perlu memberikan ruang lebih bagi guru untuk berinovasi dan mengembangkan metode pembelajaran yang berbasis pada kasih sayang dan pengertian. Tanpa adanya kesejahteraan mental bagi para pendidik, sangat sulit untuk mengharapkan terciptanya atmosfer pembelajaran yang hangat dan penuh makna.
Lebih jauh lagi, kurikulum pendidikan nasional harus mulai mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan pesan moral dan kemanusiaan universal. Budaya gotong royong, toleransi, dan tenggang rasa harus menjadi napas dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa di sekolah. Kita harus waspada terhadap kecenderungan pendidikan yang terlalu berorientasi pada kompetisi individu yang agresif dan menanggalkan semangat kolaborasi. Pendidikan yang baik adalah yang mampu menyeimbangkan antara keunggulan intelektual dan kematangan emosional serta kepedulian sosial yang tinggi terhadap lingkungan. Peserta didik perlu diajak untuk melihat masalah-masalah sosial di sekitar mereka sebagai bagian dari tanggung jawab moral yang harus diselesaikan. Dengan demikian, ilmu yang mereka dapatkan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Sebagai kesimpulan dari refleksi Januari ini, mari kita berkomitmen untuk melepaskan diri dari belenggu mekanisasi yang mereduksi makna pendidikan itu sendiri. Mewariskan sistem pendidikan yang humanis berarti memberikan harapan bagi terciptanya masa depan yang lebih baik dan lebih beradab bagi semua. Kita ingin generasi mendatang tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akal, namun tetap lembut secara perasaan dan kuat secara prinsip. Pendidikan adalah jembatan emas menuju peradaban yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi keadilan bagi setiap individu manusia di dunia. Mari kita kembalikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk menemukan jati diri dan mengembangkan potensi kemanusiaan mereka. Hanya dengan cara inilah, kita benar-benar memberikan warisan yang tak ternilai harganya bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.