Menemukan Geometri di Gerbang Majapahit: Pelajaran Matematika SD dari Cagar Budaya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di kawasan Kabupaten Pati terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang memikat, gerbang megah dari zaman Kerajaan Majapahit. Penelitian ini memandang Pintu Gerbang Majapahit bukan sekadar artefak arkeologi, melainkan arena belajar matematika yang kaya makna. Dengan mengambil arsitektur gerbang sebagai laboratorium alami, para peneliti ingin mengeksplorasi bagaimana elemen-elemen geometri seperti garis, bangun datar, bangun ruang, sudut, simetri lipat dan putar, pola pengubinan, titik pusat, juring, jari-jari, dan diameter muncul di sana.
Penelitian yang dilakukan oleh Eka Murtiningsih dan Neni Mariana (2024) ini menggunakan pendekatan kualitatif transformatif dengan perpaduan paradigma postmodernisme, kritisisme, dan interpretivisme. Tujuannya adalah menggali pandangan guru terhadap hasil eksplorasi tersebut sekaligus menimbang potensi gerbang Majapahit sebagai sumber pembelajaran geometri bagi siswa sekolah dasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dan ornamentasi gerbang Majapahit mengandung unsur-unsur geometri yang sangat relevan dengan kurikulum matematika di sekolah dasar. Dari bentuk dasar bangun datar dan ruang pada gerbang, hingga konsep simetri dan pola yang terdapat pada ukiran, semuanya dapat dijadikan sarana konkret untuk mengenalkan konsep matematika yang seringkali dianggap abstrak oleh siswa. Guru yang terlibat dalam penelitian ini juga menilai bahwa konteks budaya lokal seperti gerbang Majapahit dapat menjadi jembatan antara matematika dan kehidupan sehari-hari siswa, serta meningkatkan semangat, kreativitas, dan rasa ingin tahu mereka.
Selain temuan utama, penelitian ini juga menemukan adanya miskonsepsi di kalangan guru mengenai bangun datar segienam, yang menunjukkan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi pendidik dalam memahami konsep geometri secara mendalam. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa pembelajaran kontekstual tidak hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga memperdalam kompetensi guru.
Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Pembelajaran matematika di sekolah dasar dapat dikembangkan dengan menjadikan lingkungan sekitar, khususnya warisan budaya, sebagai sumber belajar. Guru dapat mengajak siswa melakukan eksplorasi langsung di lapangan, mengamati bangunan bersejarah, menemukan pola, menghitung sudut, serta membandingkan bentuk simetris dan asimetris. Dengan cara ini, matematika tidak lagi terasa kering, melainkan menjadi ilmu yang hidup dan dekat dengan keseharian.
Lebih jauh lagi, pembelajaran berbasis budaya seperti ini juga menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan lokal dan memperkuat identitas budaya siswa. Ketika anak-anak belajar tentang geometri melalui Gerbang Majapahit, mereka tidak hanya belajar tentang bentuk dan sudut, tetapi juga tentang sejarah, seni, dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa yang kaya budaya.
Penulis : Neni Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D.
Gambar : google.com
Sumber Pustaka:
Murtiningsih, E., & Mariana, N. (2021). Eksplorasi konsep geometri pada arsitektur pintu Gerbang Majapahit sebagai peninggalan sejarah di Kabupaten Pati. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 9(4).