MENULIS SEBAGAI CERMIN PERASAAN SISWA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Menulis bukan hanya keterampilan akademik, tetapi juga sarana
penting bagi siswa untuk mengenal, memahami, dan mengungkapkan perasaan mereka.
Di tingkat Sekolah Dasar, ekspresi emosional anak masih berkembang, dan kadang
sulit mereka utarakan secara lisan. Melalui kegiatan menulis, seperti menulis
cerita pendek, puisi, atau jurnal harian, anak dapat menyampaikan apa yang
dirasakan tanpa tekanan, sekaligus mengasah empati dan kesadaran diri. Di
sinilah peran menulis menjadi jendela yang mencerminkan dunia batin mereka.
Guru
dapat memfasilitasi ekspresi perasaan siswa melalui berbagai pendekatan menulis
bebas, reflektif, atau tematik. Kegiatan seperti “menulis tentang hari
terbaik”, “curhat lewat puisi”, atau “menulis surat untuk diri sendiri” dapat
membantu siswa menggali dan mengelola emosi secara sehat. Tantangan terbesar
adalah membangun rasa aman dan nyaman bagi siswa agar tidak takut salah atau
dihakimi. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memberikan apresiasi
terhadap proses, bukan hanya hasil tulisan. Pendekatan ini juga mendorong
hubungan guru dan siswa yang lebih humanis dan empatik.
Menjadikan
menulis sebagai cermin perasaan siswa berarti memberi ruang pada suara-suara
kecil yang kerap terabaikan dalam keramaian kelas. Ini adalah langkah sederhana
namun bermakna dalam membentuk generasi yang lebih terbuka, reflektif, dan
berempati. Dalam jangka panjang, siswa yang terbiasa mengekspresikan diri lewat
tulisan akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih sadar diri, memiliki kepekaan
sosial, serta mampu berkomunikasi dengan lebih bijak.
###
Penulis: Sevian
Dokumentasi: Freepik