Natal Diajarkan sebagai Toleransi dalam Keberagaman
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Perayaan Natal dikenalkan di sekolah dasar sebagai bagian dari upaya menanamkan pendidikan toleransi dan sikap saling menghormati. Guru menjelaskan makna Natal secara umum sebagai perayaan keagamaan yang menekankan nilai kasih, damai, dan kebersamaan, tanpa memasuki unsur doktrinal. Pendekatan ini dilakukan agar seluruh siswa dapat memahami esensi perayaan secara inklusif.
Siswa diajak memahami bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama, budaya, dan tradisi. Melalui penjelasan sederhana, guru menanamkan kesadaran bahwa perbedaan merupakan kenyataan sosial yang harus dihargai. Sikap saling menghormati antarumat beragama menjadi nilai utama yang ditekankan dalam pembelajaran.
Melalui diskusi ringan dan kegiatan reflektif, anak-anak belajar menghargai perbedaan yang ada di antara teman-temannya. Siswa didorong untuk bersikap terbuka, tidak mengejek, dan mampu hidup berdampingan secara damai. Proses ini penting untuk membangun iklim sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh warga sekolah.
Pembelajaran toleransi melalui pengenalan perayaan Natal juga melatih kemampuan sosial dan emosional siswa. Anak belajar mengelola sikap, memahami sudut pandang orang lain, serta membangun empati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini sangat dibutuhkan dalam interaksi sosial sejak usia dini.
Secara keseluruhan, pembelajaran ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama dan ketiga, serta mendukung pendidikan multikultural di sekolah dasar. Sekolah berperan penting sebagai ruang awal pembentukan karakter toleran, sehingga siswa tumbuh menjadi generasi yang menghargai perbedaan dan mampu hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti