Pemanfaatan Teknologi Terjemahan Digital dalam Pembelajaran Doa Buka Puas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menjelang bulan Rajab dan Ramadan, sekolah mulai menyesuaikan pembelajaran dengan konteks keagamaan yang relevan. Salah satu inovasi yang banyak diterapkan adalah pemanfaatan teknologi terjemahan digital untuk membantu siswa memahami doa buka puasa. Selama ini, pembelajaran doa lebih menekankan pada hafalan, sehingga pemahaman makna sering kali kurang diperhatikan. Dengan bantuan teknologi, siswa dapat mengetahui arti setiap lafaz doa secara lebih jelas dan sistematis. Hal ini membuat pembelajaran agama menjadi lebih bermakna dan reflektif. Guru melihat adanya peningkatan minat siswa dalam memahami isi doa, bukan sekadar menghafalnya.
Dalam proses pembelajaran, guru mengintegrasikan terjemahan digital sebagai bagian dari literasi keagamaan. Siswa diajak membaca teks doa asli kemudian mencocokkannya dengan hasil terjemahan. Kegiatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis terhadap makna kata dan kalimat. Diskusi kelas pun berkembang karena siswa mulai mengaitkan isi doa dengan pengalaman berpuasa sehari-hari. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang aktif dan partisipatif. Nilai religius dapat ditanamkan secara lebih kontekstual.
Pemanfaatan teknologi terjemahan juga berkontribusi pada peningkatan literasi digital siswa. Mereka belajar menggunakan teknologi sebagai alat bantu belajar yang positif dan produktif. Guru menekankan pentingnya menggunakan teknologi secara bijak dan tidak bergantung sepenuhnya pada hasil terjemahan. Siswa diajak memahami bahwa teknologi hanya membantu proses, sementara pemaknaan tetap berasal dari pemahaman pribadi. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan karakter di sekolah. Pembelajaran menjadi seimbang antara aspek kognitif dan afektif.
Selain itu, penggunaan teknologi terjemahan menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif. Siswa dengan kemampuan membaca yang berbeda tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Guru dapat menyesuaikan bahasa terjemahan sesuai tingkat perkembangan siswa. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan pemahaman dalam kelas. Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memahami materi. Proses belajar menjadi lebih adil dan merata.
Secara keseluruhan, integrasi teknologi terjemahan dalam pembelajaran doa buka puasa menunjukkan adaptasi pendidikan terhadap perkembangan zaman. Pembelajaran agama tidak lagi bersifat monoton, tetapi dikemas secara modern dan relevan. Nilai spiritual tetap menjadi inti, sementara teknologi berperan sebagai pendukung. Inovasi ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat berjalan selaras dengan kemajuan digital. Sekolah pun semakin siap menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21.
###
Penulis: Anisa Rahmawati