Pembelajaran Cuaca: Siswa SD Belajar Mengamati Awan dan Temperatur Harian
Sumber : Pinterest
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Materi cuaca di sekolah dasar kini diajarkan dengan pendekatan observasi langsung. Guru mengajak siswa keluar kelas untuk melihat kondisi langit, mengamati warna awan, serta mencatat suhu harian menggunakan termometer sederhana. Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa lebih nyata, karena siswa dapat melihat langsung contoh fenomena alam yang sedang dipelajari. Mereka tidak hanya menghafal konsep, tetapi memahaminya melalui pengalaman.
Selain mengamati langit, siswa juga diminta mencatat perubahan cuaca setiap jam dalam bentuk tabel atau jurnal harian. Aktivitas ini melatih keterampilan dasar sains seperti observasi, pencatatan, dan analisis data. Guru kemudian mengajak siswa berdiskusi tentang faktor-faktor yang memengaruhi perubahan cuaca, seperti angin, kelembapan, dan panas matahari. Diskusi sederhana ini membantu memperkuat pemahaman mereka terhadap konsep yang lebih kompleks.
Anak-anak juga belajar bahwa cuaca memengaruhi berbagai aktivitas manusia. Mereka memahami kapan harus membawa payung, kapan aman bermain di luar, dan kapan perlu waspada terhadap angin kencang. Melalui contoh kehidupan sehari-hari ini, pembelajaran cuaca menjadi sangat relevan dan mudah dipahami. Siswa menyadari bahwa cuaca bukan sekadar teori, tetapi sesuatu yang berdampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan mereka.
Untuk memperkuat literasi digital, siswa diperkenalkan dengan aplikasi prakiraan cuaca sederhana. Mereka belajar membaca ikon cuaca, seperti gambar awan gelap, sinar matahari, atau petir, serta menafsirkan informasi seperti suhu, kecepatan angin, dan peluang hujan. Dengan kemampuan ini, siswa dapat memprediksi aktivitas besok berdasarkan data harian, sehingga lebih siap menghadapi kondisi yang mungkin terjadi.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran cuaca tidak hanya mengenalkan konsep ilmiah, tetapi juga membangun kesiapsiagaan anak dalam menghadapi perubahan lingkungan sekitar. Siswa dilatih untuk peka terhadap perubahan cuaca dan memahami tindakan aman yang harus dilakukan ketika terjadi cuaca ekstrem. Pembelajaran praktis seperti ini memperkuat pemahaman dan membangun rasa tanggung jawab terhadap keselamatan diri.
Secara keseluruhan, pembelajaran cuaca mendukung SDG 13 (Aksi Iklim) karena membentuk generasi muda yang lebih peduli dan sadar lingkungan. Kesadaran terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem sejak dini sangat penting untuk membangun budaya peduli lingkungan. Dengan pengetahuan dan sikap yang tepat, siswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga bumi dan beradaptasi dengan tantangan iklim di masa depan.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti