Pembelajaran Kolaboratif sebagai Praktik Sosial di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran kolaboratif menjadi salah satu pendekatan yang relevan dalam pendidikan dasar. Pendekatan ini menekankan kerja sama antar siswa. Belajar dipandang sebagai aktivitas sosial. Siswa membangun pengetahuan melalui interaksi dengan teman sebaya. Hal ini sejalan dengan kebutuhan perkembangan sosial anak.
Secara teoritis, pembelajaran kolaboratif berakar pada teori belajar sosial. Pengetahuan dikonstruksi melalui dialog dan kerja sama. Setiap siswa memiliki kontribusi dalam proses belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengelola dinamika kelompok. Pembelajaran menjadi lebih partisipatif.
Dalam praktik pembelajaran SD, kolaborasi dapat diterapkan melalui diskusi kelompok kecil. Materi ke-SD-an seperti IPS dan IPA sangat cocok untuk pendekatan ini. Siswa dapat bekerja sama menyelesaikan tugas atau proyek sederhana. Aktivitas ini melatih komunikasi dan tanggung jawab. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Pembelajaran kolaboratif juga mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21. Siswa belajar bekerja dalam tim dan menghargai perbedaan. Nilai kebersamaan dan empati tumbuh melalui pengalaman belajar. Guru perlu mengatur kelompok secara proporsional. Refleksi bersama menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif memperkuat fungsi sosial pendidikan dasar. Sekolah menjadi ruang belajar bersama. Pendekatan ini mendukung perkembangan kognitif dan sosial siswa. Pendidikan dasar yang kolaboratif menyiapkan anak menghadapi kehidupan bermasyarakat.
Penulis: Aida Meilina