Pembelajaran Multiliterasi dalam Pendidikan Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Perkembangan zaman menuntut perluasan makna literasi dalam pendidikan dasar. Literasi tidak lagi terbatas pada membaca dan menulis teks cetak. Anak perlu menguasai berbagai bentuk literasi, termasuk visual, digital, dan media. Sekolah dasar menjadi tahap awal pengenalan multiliterasi. Pembelajaran harus merespons kompleksitas ini secara pedagogis.
Secara teoritis, multiliterasi berakar pada pandangan bahwa makna dibangun melalui berbagai simbol dan mode komunikasi. Anak belajar memahami dunia melalui teks, gambar, suara, dan media digital. Guru perlu memahami keragaman bentuk literasi ini. Pembelajaran tidak dapat lagi mengandalkan satu jenis teks. Pendekatan multiliterasi mendukung pembelajaran yang inklusif.
Dalam praktik pembelajaran SD, multiliterasi dapat diterapkan melalui penggunaan berbagai media. Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat melibatkan teks visual dan audiovisual. Materi IPA dan IPS dapat menggunakan infografik sederhana. Siswa belajar menafsirkan dan menghasilkan makna dari berbagai sumber. Aktivitas ini melatih kemampuan berpikir kritis.
Pendekatan multiliterasi juga relevan dengan kehidupan digital siswa. Anak terbiasa berinteraksi dengan berbagai media sejak dini. Sekolah perlu mengarahkan interaksi tersebut secara edukatif. Guru berperan sebagai pembimbing literasi. Pembelajaran menjadi sarana membangun kesadaran kritis.
Dengan demikian, pembelajaran multiliterasi memperkuat kualitas pendidikan dasar. Sekolah menyiapkan siswa menghadapi kompleksitas informasi. Pendidikan dasar menjadi fondasi literasi abad ke-21. Siswa tumbuh sebagai pembaca dan pemakna yang reflektif.
Penulis: Aida Meilina