Pendidikan Agama Menjadi Bekal Anak dalam Berinteraksi Sosial Khusus
s2dikdas.fip.unesa.ac.id - Surabaya.
Pendidikan agama di usia dini bukan hanya memberi anak pendidikan spiritual
tetapi juga membangun karakter dan etika yang kuat dalam kehidupan sehari-hari,
termasuk dalam interaksi sosial khusus. Interaksi sosial khusus ini mencakup
hubungan yang lebih intim dan penting, seperti dengan teman dekat, keluarga,
atau guru, di mana empati, empati, dan tata krama sangat penting.Melalui
pendidikan agama, anak-anak belajar nilai-nilai dasar seperti kejujuran,
kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai ini sangat penting untuk
sikap mereka saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam situasi yang
menuntut perhatian khusus, seperti membantu teman yang sedih atau menghormati
perbedaan di lingkungan mereka. Anak-anak mulai membangun hubungan yang lebih
kompleks di sekolah dasar. Dalam situasi
ini, pendidikan agama berfungsi sebagai garis besar moral. Anak-anak yang terbiasa mendengarkan
kisah-kisah teladan yang berasal dari ajaran agama akan memiliki contoh
tindakan yang nyata. Misalnya, mereka
akan belajar lebih banyak tentang menghormati orang yang lebih tua, meminta
maaf, atau meminta maaf.
Di sisi lain, pendidikan agama juga
menanamkan rasa tanggung jawab sosial. Anak-anak didorong untuk berperilaku
baik saat diawasi dan saat bersama teman sebaya. Ini memainkan peran penting
untuk memastikan bahwa interaksi sosial tidak hanya ramah tetapi juga tulus.
Tak terbatas waktu pulang, di era digital saat ini, anak-anak mudah terpapar
perilaku yang kurang santun dari berbagai media. Pendidikan agama berfungsi
sebagai filter natural untuk mengajarkan anak-anak nilai moral. Oleh karena
itu, anak tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga memiliki
kecerdasan emosional dan spiritual.
Oleh karena itu, orang tua dan guru
memiliki peran penting dalam
meningkatkan pendidikan agama sebagai bekal interaksi. Anak-anak akan tumbuh
menjadi orang yang taat beragama dan mampu membina hubungan sosial yang sehat
dan berempati melalui keteladanan, diskusi terbuka, dan penguatan nilai-nilai
positif.
Dengan demikian, mengajarkan
anak-anak agama sejak dini adalah investasi dalam karakter yang akan bertahan
lama. Hali bukan hanya tentang beribadah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
luhur yang akan menjadi pedoman dalam menjalin hubungan sosial yang baik
sepanjang hidup mereka.
Penulis: Sabila Widyawati
Ilustrasi: Pinterest