Pendidikan Karakter Saat Layar Kaca Menjadi Guru Utama Perilaku Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era kontemporer ini gawai telah bertransformasi menjadi sumber referensi utama yang membentuk persepsi serta perilaku bagi sebagian besar populasi siswa. Layar kecil tersebut sering kali lebih ditaati daripada nasihat bijak guru di sekolah maupun petuah kasih sayang orang tua di rumah. Hal ini menciptakan dilema besar bagi dunia pendidikan karena pengaruh luar masuk secara masif tanpa melalui sensor moral yang memadai. Nilai-nilai yang ditampilkan oleh para pembuat konten sering kali dijadikan standar kesuksesan dan gaya hidup yang harus ditiru mentah-mentah. Padahal tidak semua konten tersebut mengandung nilai-nilai edukasi yang relevan dengan perkembangan psikologis dan norma moralitas siswa kita. Pendidikan karakter pun seolah berada di persimpangan jalan menghadapi tantangan otoritas informasi yang kian bergeser ke arah platform digital. Guru harus mampu memosisikan diri bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga sebagai fasilitator yang mampu mengarahkan siswa di tengah rimba.
Interaksi yang terjadi di balik layar kaca cenderung membuat seseorang merasa kehilangan keterikatan emosional dengan realitas sosial yang ada di sekitarnya. Siswa menjadi lebih mudah teralienasi dari nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dipelajari melalui interaksi fisik secara langsung dan mendalam sehari-hari. Pendidikan karakter yang hanya mengandalkan metode konvensional akan sulit bersaing dengan daya tarik konten multimedia yang sangat persuasif dan menghibur. Oleh karena itu diperlukan inovasi kreatif dalam penyampaian nilai-nilai etika agar dapat diterima dengan baik oleh generasi visual ini. Sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital ke dalam setiap mata pelajaran untuk membangun kesadaran etis yang bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Tantangan ini memang tidak mudah untuk ditaklukkan namun harus dihadapi demi menyelamatkan generasi masa depan dari degradasi moral sistemik. Keberhasilan pendidikan karakter akan sangat bergantung pada kemampuan kita dalam menyeimbangkan pengaruh teknologi dengan kekuatan nilai-nilai kemanusiaan luhur.
Kehadiran media sosial sebagai guru bayangan telah meredefinisi cara siswa memahami konsep benar dan salah dalam kehidupan sosial mereka yang dinamis. Apa yang dianggap viral sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak meskipun konten tersebut melanggar nilai-nilai kesopanan dan hukum yang berlaku. Siswa cenderung lebih mementingkan pengakuan dari komunitas daring daripada integritas diri yang seharusnya dijaga dengan penuh komitmen dan dedikasi. Fenomena ini memaksa para pendidik untuk bekerja lebih keras dalam memberikan pemahaman mengenai filter informasi yang berbasis pada etika. Guru tidak lagi bisa hanya mengandalkan buku teks tetapi juga harus memahami tren digital agar bisa memberikan bimbingan relevan. Pendidikan karakter harus mampu menyentuh aspek psikososial siswa agar mereka memiliki imunitas terhadap pengaruh negatif dari dunia digital yang liar. Tanpa adanya intervensi yang tepat peran guru sebagai penuntun moral akan semakin terpinggirkan oleh dominasi konten-konten yang bersifat dangkal.
Dilema ini semakin diperparah dengan adanya kesenjangan digital antara generasi pendidik yang lebih tua dengan generasi siswa sebagai pribumi digital. Banyak guru yang merasa kewalahan dalam mengikuti perkembangan aplikasi dan tren yang sangat cepat berubah di kalangan anak didik mereka. Ketertinggalan ini sering kali menyebabkan proses pembinaan karakter menjadi tidak efektif karena adanya perbedaan frekuensi komunikasi antara keduanya. Diperlukan upaya peningkatan kompetensi digital bagi para pendidik agar mereka dapat masuk ke dunia siswa dan memberikan pengaruh positif. Komunikasi yang empatik dan terbuka menjadi jembatan penting untuk memahami apa yang sebenarnya dialami oleh siswa di dunia maya. Dengan memahami tantangan yang dihadapi siswa guru dapat merancang strategi pendidikan karakter yang lebih tepat sasaran dan berdaya guna. Kolaborasi yang erat antara sekolah dan pengembang platform digital juga perlu diinisiasi untuk menciptakan lingkungan daring yang ramah anak.
Pada kesimpulannya menyelamatkan karakter siswa dari pengaruh buruk layar kaca adalah perjuangan panjang yang menuntut kesabaran dan strategi yang sangat matang. Kita tidak bisa menghalangi kemajuan teknologi namun kita bisa memperkuat fondasi moral siswa agar tidak mudah goyah oleh arus informasi. Pendidikan karakter harus bertransformasi menjadi lebih adaptif dialogis dan berbasis pada contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa tersebut. Marwah pendidikan harus dikembalikan sebagai proses pemanusiaan manusia bukan sekadar transfer informasi yang bisa dilakukan oleh mesin pencari manapun. Orang tua juga harus kembali mengambil peran aktif dalam mendampingi anak-anak mereka saat berinteraksi dengan gawai kesayangan mereka di rumah. Semoga dengan kerja keras kolektif kita dapat melahirkan generasi yang mampu mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia secara luas. Masa depan bangsa ada di tangan anak-anak yang memiliki kecerdasan digital sekaligus memiliki kedalaman budi pekerti yang sangat mulia.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.