Pendidikan Lingkungan vs Budaya Konsumerisme: Pertempuran Nilai di Kantin Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di balik kurikulum lingkungan yang diajarkan di kelas, terdapat musuh tersembunyi yang setiap hari merusak pesan-pesan keberlanjutan tersebut: budaya konsumerisme yang masif di kantin sekolah. Sepanjang tahun 2026, banyak pengamat pendidikan menyoroti inkonsistensi antara pengajaran "sayangi bumi" dengan kenyataan kantin yang dipenuhi plastik sekali pakai dan produk makanan olahan dengan jejak karbon tinggi. Isu ini menjadi krusial karena sekolah seharusnya menjadi tempat di mana nilai-nilai ekologis dipraktikkan, bukan hanya didiskusikan. Jika sekolah gagal mengelola kantinnya secara hijau, maka pendidikan lingkungan hanya akan dianggap sebagai formalitas yang munafik oleh siswa.
Anak-anak sekolah dasar adalah target pasar yang sangat rentan terhadap iklan produk konsumtif. Budaya "skrol cepat" di media sosial juga mempromosikan gaya hidup yang serba cepat dan instan, yang berbanding terbalik dengan prinsip keberlanjutan. Pendidikan lingkungan sering kali kalah telak dalam pertempuran nilai ini karena tidak memiliki daya tarik visual dan kepuasan instan yang sama dengan produk konsumsi. Inilah yang menyebabkan materi lingkungan di kelas sering kali menguap begitu saja saat jam istirahat tiba.
Data menunjukkan bahwa rata-rata satu sekolah dasar menghasilkan sampah plastik yang cukup besar hanya dari aktivitas kantin harian. Sekolah yang mengeklaim diri sebagai "Sekolah Hijau" namun masih membiarkan penjualan air minum kemasan plastik secara masif sebenarnya sedang melakukan kontradiksi pedagogis. Pendidikan lingkungan yang jujur harus dimulai dari piring dan gelas siswa di kantin. Transformasi kantin menjadi "Kantin Hijau" yang bebas plastik dan menyediakan makanan lokal sehat adalah alat peraga pendidikan lingkungan yang paling efektif bagi siswa SD.
Secara filosofis, ini adalah tentang mengajarkan "Etika Konsumsi." Siswa perlu diajarkan untuk bertanya dari mana makanan mereka berasal dan ke mana sampahnya akan pergi. Pendidikan lingkungan harus bergeser dari sekadar "membuang sampah" ke "bertanggung jawab atas konsumsi". Sekolah harus berani mengambil kebijakan radikal untuk melarang plastik sekali pakai dan menyediakan fasilitas air minum isi ulang bagi seluruh siswa. Meskipun akan ada penolakan awal, langkah ini adalah pembelajaran nyata tentang pengorbanan dan komitmen demi bumi.
Selain itu, kurikulum kewirausahaan di SD (seperti market day) juga harus mulai mengintegrasikan kriteria keberlanjutan. Siswa diajarkan untuk menjual produk yang ramah lingkungan dan minim sampah. Dengan cara ini, literasi ekonomi dan literasi lingkungan berjalan beriringan. Siswa belajar bahwa keuntungan finansial tidak boleh mengorbankan kelestarian alam. Nilai-nilai ini sangat penting untuk membentuk karakter pemimpin masa depan yang memiliki kesadaran ekologis tinggi.
Peran komite sekolah dan orang tua sangat penting dalam transformasi budaya konsumsi ini. Sering kali, tantangan terbesar bukan datang dari siswa, melainkan dari ekosistem bisnis di sekitar sekolah. Sekolah perlu melakukan diplomasi dengan para pedagang kantin untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan dan menyediakan pilihan menu yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan adalah tanggung jawab sosial kolektif, bukan hanya tugas guru di kelas IPA.
Sebagai simpulan, pertempuran nilai antara literasi lingkungan dan konsumerisme di sekolah akan menentukan kualitas karakter generasi masa depan. Sekolah harus menjadi contoh nyata dari gaya hidup berkelanjutan yang konsisten. Jika kita berhasil mengubah budaya di kantin sekolah dasar, kita telah berhasil memenangkan satu pertempuran besar dalam upaya penyelamatan bumi. Pendidikan lingkungan adalah tentang apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita baca di buku teks.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah