Pendidikan Moral sebagai Penawar Retaknya Solidaritas Sosial Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Polarisasi sosial dan politik global tidak hanya
menciptakan perbedaan pendapat, tetapi juga meretakkan solidaritas sosial.
Hubungan antarmanusia semakin sering dibingkai oleh kecurigaan dan prasangka.
Dalam situasi ini, pendidikan moral menjadi ruang penting untuk memulihkan rasa
kebersamaan. Solidaritas tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari pengakuan
atas martabat manusia. Namun pengakuan ini mudah tergerus oleh narasi yang
memecah belah. Pendidikan moral berupaya menghidupkan kembali nilai kebersamaan
di tengah fragmentasi. Ia menegaskan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada
keterasingan. Di sinilah pendidikan moral berfungsi sebagai penawar sosial.
Pendidikan moral menumbuhkan kesadaran bahwa manusia
hidup dalam keterhubungan. Setiap tindakan memiliki dampak sosial yang
melampaui lingkaran terdekat. Kesadaran ini penting ketika polarisasi mendorong
sikap individualistis. Dengan memahami keterhubungan, individu lebih
berhati-hati dalam bersikap. Nilai tanggung jawab sosial pun menguat.
Retaknya solidaritas sering diperparah oleh bahasa
yang eksklusif. Bahasa digunakan untuk membedakan dan menyingkirkan. Pendidikan
moral melatih kepekaan terhadap penggunaan bahasa. Kepekaan ini mendorong
komunikasi yang lebih manusiawi. Bahasa yang etis membuka peluang rekonsiliasi.
Pendidikan moral juga memperkenalkan empati sebagai
keterampilan sosial. Empati tidak identik dengan menyetujui pandangan lain. Ia
berarti berusaha memahami latar belakang dan pengalaman orang lain. Dalam dunia
terpolarisasi, empati menjadi jembatan yang rapuh namun penting. Tanpa empati,
solidaritas sulit dipulihkan.
Selain empati, keadilan menjadi pilar utama
solidaritas. Polarisasi sering memunculkan standar ganda dalam menilai suatu
peristiwa. Pendidikan moral membantu mengembangkan rasa keadilan yang
konsisten. Konsistensi ini mencegah pembelaan selektif yang merusak kepercayaan
sosial. Solidaritas tumbuh dari rasa adil yang dirasakan bersama.
Proses refleksi kolektif juga berperan dalam
memulihkan solidaritas. Refleksi membantu masyarakat meninjau kembali nilai
yang dianut. Pendidikan moral mendorong refleksi ini secara terbuka dan
inklusif. Dari refleksi lahir kesepahaman baru yang lebih matang. Kesepahaman
ini menjadi dasar solidaritas yang lebih kokoh.
Pada akhirnya, pendidikan moral berkontribusi besar
dalam memperbaiki solidaritas sosial yang retak. Di tengah polarisasi global,
solidaritas menjadi kebutuhan mendesak. Pendidikan moral menjaga agar ikatan
kemanusiaan tidak terputus oleh perbedaan.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah