Rekonsiliasi lewat Permainan: Mengikis Prasangka Sejak Bangku Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebuah
pendekatan inovatif yang mengombinasikan elemen hiburan dan nilai sosial mulai
diuji coba di berbagai sekolah dasar di Surabaya sebagai cara menyenangkan
untuk mengajarkan perdamaian di tengah bayang-bayang konflik sosial global
bulan ini. Melalui permainan peran (role play) dan simulasi kerja sama
tim yang intensif, siswa didorong untuk memecahkan berbagai tantangan
bersama-sama tanpa memandang perbedaan identitas yang sering kali menjadi
pemantik perpecahan di dunia orang dewasa. Program ini bertujuan menghancurkan
tembok prasangka sejak dini, di mana anak-anak diajak melihat secara nyata
bahwa kolaborasi kelompok menghasilkan hasil yang jauh lebih baik daripada
kompetisi yang memecah belah.
Secara pedagogis,
permainan adalah media belajar paling efektif dan natural bagi anak usia
sekolah dasar untuk menginternalisasi nilai-nilai kerja sama, sportivitas, dan
toleransi tanpa merasa sedang diajari. Dalam lingkungan bermain yang
terkontrol, siswa belajar menghadapi kekalahan dengan lapang dada serta
menghargai perbedaan pendapat dalam tim tanpa harus merasa terancam atau marah
secara berlebihan. Analisis mendalam menunjukkan bahwa pengalaman positif saat
bekerja sama dengan individu dari kelompok yang berbeda dapat menghilangkan
stigma negatif yang mungkin mereka dengar dari lingkungan luar. Ini adalah
bentuk pencegahan dini terhadap polarisasi yang sering kali dimulai dari rasa
takut dan ketidakpercayaan terhadap "pihak lain" yang tidak dikenal
secara pribadi.
Metode ini juga
memanfaatkan narasi cerita rakyat atau dongeng modern yang memiliki pesan moral
tentang rekonsiliasi dan pentingnya saling memaafkan setelah terjadi
perselisihan. Siswa diajak untuk memerankan tokoh-tokoh yang berbeda pandangan
namun akhirnya menemukan solusi damai, sehingga mereka belajar tentang seni
negosiasi dan kompromi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengalami sendiri
bagaimana rasanya menjadi orang lain melalui permainan peran, sensitivitas
emosional anak terhadap penderitaan atau kegembiraan teman-temannya akan
semakin meningkat. Permainan menjadi jembatan psikologis yang menghubungkan
hati antar-siswa, melampaui sekat-sekat etnis atau latar belakang sosial yang
sering kali menjadi pembatas interaksi.
Selain di dalam kelas,
aktivitas ini juga melibatkan permainan luar ruangan yang menekankan pada
ketergantungan antar-anggota tim untuk mencapai tujuan fisik tertentu, seperti
lomba halang rintang kolektif. Kegiatan semacam ini menanamkan kesadaran bahwa
kelemahan satu anggota adalah tantangan bagi seluruh tim, sehingga semangat
saling membantu tumbuh secara organik di antara para siswa. Prasangka yang
mungkin dibawa dari rumah perlahan-lahan luntur ketika mereka menyadari bahwa
teman yang "berbeda" tersebut ternyata adalah rekan yang handal dalam
memecahkan masalah. Inilah esensi dari pendidikan moral berbasis aksi, di mana
nilai-nilai luhur tidak hanya diucapkan di bibir, tetapi dipraktikkan melalui
koordinasi gerak dan pikiran dalam sebuah permainan.
Guru pendamping berperan
aktif dalam melakukan debriefing atau diskusi singkat setelah permainan
berakhir untuk menguatkan pesan-pesan moral yang muncul selama aktivitas
berlangsung. Mereka membantu siswa merefleksikan perasaan mereka saat bekerja
sama dan mengarahkan mereka untuk memahami bahwa keberhasilan kelompok adalah
hasil dari penerimaan terhadap keunikan setiap individu. Tanpa arahan guru,
permainan mungkin hanya akan menjadi aktivitas fisik biasa; namun dengan
sentuhan edukatif, permainan berubah menjadi pengalaman transformatif yang
membangun karakter. Proses refleksi ini sangat penting untuk memastikan bahwa
nilai-nilai positif yang didapat saat bermain dapat diaplikasikan oleh siswa
dalam pergaulan sosial mereka di luar jam sekolah.
Pengaruh dari permainan
rekonsiliasi ini juga terlihat dari berkurangnya kasus perundungan di
sekolah-sekolah percontohan yang menerapkan metode ini secara konsisten selama
setahun terakhir. Siswa menjadi lebih empatik dan cenderung mencari solusi
damai saat terjadi kesalahpahaman kecil dengan teman sejawatnya, mencerminkan
kematangan karakter yang luar biasa untuk usia mereka. Keberhasilan ini
memberikan optimisme bahwa pendidikan moral tidak harus selalu bersifat
teoretis, kaku, dan membosankan untuk bisa memberikan dampak yang signifikan.
Inovasi dalam metode pengajaran adalah kunci untuk menarik minat generasi Alfa
agar mereka mau mendalami nilai-nilai kemanusiaan yang universal melalui
cara-cara yang sesuai dengan dunia mereka.
Sebagai kesimpulan,
mengikis prasangka melalui aktivitas fisik dan kreatif merupakan manifestasi
dari pendidikan moral masa depan yang lebih manusiawi dan berdampak nyata bagi
perdamaian dunia. Kita sedang membangun generasi yang tidak mudah curiga pada perbedaan,
melainkan melihat perbedaan sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama yang
lebih besar. Perjalanan menuju dunia yang bebas dari polarisasi dimulai dari
setiap tawa dan kerja sama yang terjadi di lapangan bermain sekolah dasar hari
ini. Rekonsiliasi lewat permainan adalah investasi untuk memastikan bahwa
anak-anak kita akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih suka berjabat tangan
daripada mengepalkan tangan. Mari kita berikan ruang bagi anak-anak untuk
bermain dan belajar tentang indahnya persaudaraan tanpa batas.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah