Sekolah Dasar dan Fenomena Anak Cepat Dewasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Fenomena anak-anak yang tampak lebih dewasa dari usianya semakin sering terlihat. Anak sekolah dasar kini akrab dengan isu orang dewasa melalui media digital. Cara berbicara, berpikir, bahkan berpakaian menunjukkan pergeseran nilai. Hal ini memunculkan kekhawatiran tentang hilangnya dunia kanak-kanak. Pendidikan dasar berada di persimpangan yang rumit.
Sekolah sering tidak menyadari perubahan ini secara mendalam. Kurikulum tetap berjalan seolah anak-anak masih hidup dalam dunia yang sama seperti dulu. Padahal, realitas sosial anak telah berubah drastis. Anak-anak terpapar tekanan sosial lebih awal. Pendidikan dasar harus peka terhadap perubahan ini.
Anak yang terlalu cepat dewasa berisiko kehilangan kesempatan bermain. Padahal, bermain adalah kebutuhan utama anak usia sekolah dasar. Melalui bermain, anak belajar sosial, emosi, dan kreativitas. Jika ruang bermain tergerus, perkembangan anak menjadi tidak seimbang. Sekolah dasar harus melindungi hak anak untuk tumbuh secara alami.
Peran guru sangat penting dalam menjaga batas perkembangan anak. Guru perlu memahami psikologi perkembangan secara mendalam. Pendidikan dasar tidak boleh mendorong kompetisi berlebihan. Prestasi akademik tidak boleh mengorbankan kesehatan mental anak. Anak berhak menikmati proses belajar.
Menghadapi fenomena ini, pendidikan dasar harus kembali pada filosofi dasar pendidikan anak. Sekolah harus menjadi ruang aman untuk bertumbuh sesuai usia. Anak-anak bukan miniatur orang dewasa. Mereka adalah individu yang sedang berkembang. Pendidikan dasar harus menjaga dunia anak tetap hidup.
###
Penulis: Aida Meilina