Sekolah Dasar dan Penguatan Pembelajaran Berbasis Pengalaman
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran berbasis pengalaman menjadi pendekatan yang relevan dalam pendidikan dasar kontemporer. Anak usia sekolah dasar belajar secara optimal melalui keterlibatan langsung dengan lingkungan. Pengalaman konkret membantu siswa memahami konsep yang bersifat abstrak. Sekolah dasar perlu menyediakan ruang bagi siswa untuk mengalami, bukan sekadar mendengar atau membaca. Pembelajaran menjadi proses aktif yang melibatkan seluruh indera.
Secara teoritis, pembelajaran berbasis pengalaman berakar pada pemikiran John Dewey yang menekankan learning by doing. Pengetahuan dibangun melalui refleksi atas pengalaman. Anak belajar ketika mereka terlibat secara langsung dalam aktivitas bermakna. Guru berperan merancang pengalaman belajar yang terarah. Refleksi menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Dalam praktik pembelajaran SD, pengalaman belajar dapat diwujudkan melalui observasi, eksperimen sederhana, dan kunjungan lingkungan sekitar. Materi IPA dan IPS sangat cocok untuk pendekatan ini. Misalnya, siswa belajar tentang lingkungan dengan mengamati langsung kondisi sekitar sekolah. Aktivitas ini mendorong rasa ingin tahu dan kepedulian. Pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna.
Pendekatan ini juga mendukung perkembangan sosial dan emosional siswa. Anak belajar bekerja sama dan berkomunikasi. Pengalaman belajar memperkuat keterkaitan antara pengetahuan dan kehidupan nyata. Guru perlu memastikan pengalaman tersebut sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Pembelajaran dirancang aman dan terstruktur.
Dengan demikian, pembelajaran berbasis pengalaman memperkaya pendidikan dasar. Sekolah menjadi ruang eksplorasi dan refleksi. Siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengalami. Pendidikan dasar yang berbasis pengalaman membentuk pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan.
Penulis: Aida Meilina