Sekolah Dasar dan Tantangan Mendidik Anak yang Berpikir Kritis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Berpikir kritis sering digaungkan sebagai tujuan pendidikan. Namun, praktiknya di sekolah dasar masih terbatas. Anak sering diajarkan untuk patuh dan menghafal. Bertanya kadang dianggap mengganggu. Pendidikan dasar menghadapi paradoks.
Anak-anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka suka bertanya dan bereksplorasi. Namun, sistem pembelajaran sering membatasi ruang tersebut. Kurikulum yang padat menyisakan sedikit ruang dialog. Pendidikan dasar perlu memberi ruang berpikir.
Berpikir kritis bukan berarti melawan guru. Ini tentang kemampuan menganalisis dan refleksi. Anak perlu diajarkan menyampaikan pendapat dengan santun. Sekolah harus membangun budaya diskusi. Pendidikan dasar adalah fondasi nalar.
Di era informasi, berpikir kritis menjadi kebutuhan. Anak akan menghadapi berbagai narasi dan informasi. Tanpa kemampuan kritis, anak mudah terpengaruh. Pendidikan dasar harus mempersiapkan mereka. Ini bukan pilihan, tetapi keharusan.
Membangun kemampuan berpikir kritis membutuhkan keberanian pedagogis. Guru harus siap berdialog dengan anak. Kesalahan harus dipandang sebagai bagian belajar. Pendidikan dasar harus membebaskan, bukan menakutkan. Dari sanalah generasi berpikir tumbuh.
###
Penulis: Aida Meilina