Sekolah Dasar dan Tantangan Pendidikan di Masyarakat Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Perkembangan masyarakat digital membawa implikasi besar terhadap praktik pendidikan dasar. Sekolah dasar tidak lagi berada dalam ruang yang terisolasi dari teknologi dan informasi digital. Anak-anak telah terpapar gawai, media sosial, dan berbagai platform digital sejak usia dini. Kondisi ini menuntut sekolah untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran. Pendidikan dasar harus mampu menjembatani dunia digital dan kebutuhan perkembangan anak.
Secara teoritis, pendidikan di masyarakat digital menuntut pendekatan pedagogi kritis. Teknologi tidak boleh dipandang netral, melainkan sebagai produk sosial dan budaya. Siswa perlu dibekali kemampuan memahami dan menyaring informasi. Guru memiliki peran penting dalam membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijak. Pembelajaran menjadi ruang refleksi terhadap realitas digital.
Dalam konteks pembelajaran SD, materi ke-SD-an dapat dikaitkan dengan fenomena digital yang sederhana. Pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, dapat melibatkan analisis teks digital sederhana. Siswa belajar membedakan informasi dan opini. Pembelajaran IPA dan IPS juga dapat memanfaatkan sumber digital yang relevan. Dengan demikian, teknologi menjadi bagian dari proses belajar yang bermakna.
Pendekatan pembelajaran di masyarakat digital menuntut guru lebih adaptif dan reflektif. Guru perlu meningkatkan literasi digital dan pedagogis secara seimbang. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penggunaan aplikasi. Fokus utama tetap pada tujuan pendidikan. Teknologi harus mendukung perkembangan kognitif dan sosial siswa.
Dengan demikian, sekolah dasar menghadapi tantangan sekaligus peluang di masyarakat digital. Pendidikan dasar perlu merumuskan strategi pembelajaran yang kontekstual. Siswa dibekali kemampuan berpikir kritis sejak dini. Sekolah menjadi ruang aman untuk belajar dan bertumbuh di era digital.
Penulis: Aida Meilina