Sinergi Komunitas Sekolah dalam Mengubah Program Lingkungan Menjadi Tradisi Baik yang Berkelanjutan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Keberhasilan
sebuah inisiatif lingkungan di sekolah dasar sangat bergantung pada sejauh mana
seluruh elemen komunitas sekolah mampu bersinergi secara harmonis. Program
lingkungan yang hanya digerakkan oleh satu pihak cenderung bersifat sementara
dan akan meredup ketika figur penggeraknya tidak lagi berada di tempat. Oleh
karena itu, diperlukan sebuah kolaborasi yang inklusif antara kepala sekolah,
guru, siswa, hingga staf pendukung untuk menyatukan visi dalam melestarikan
alam. Sinergi ini bertujuan untuk mengubah program-program yang bersifat
administratif menjadi sebuah tradisi baik yang dilakukan secara sukarela dan
penuh kesadaran. Ketika semua pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama,
maka upaya pelestarian lingkungan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari
identitas sekolah tersebut.
Dalam
membangun tradisi yang berkelanjutan, peran guru sebagai jembatan antara
kebijakan sekolah dan praktik siswa menjadi sangat vital. Guru tidak hanya
bertugas menyampaikan materi di kelas, tetapi juga harus mampu menggerakkan
semangat kolektif siswa melalui keteladanan yang nyata. Interaksi yang positif
antara guru dan siswa dalam kegiatan lingkungan akan menciptakan ikatan
emosional yang memperkuat motivasi untuk terus berbuat baik pada alam. Tradisi
ini kemudian akan mengakar kuat apabila didukung oleh sistem komunikasi yang
transparan mengenai manfaat dan capaian dari setiap aktivitas hijau yang dilakukan.
Sinergi komunitas yang solid akan memudahkan proses transfer nilai dari satu
generasi siswa ke generasi berikutnya tanpa kehilangan esensinya.
Keterlibatan
orang tua siswa juga menjadi faktor penentu dalam memperluas jangkauan tradisi
baik ini hingga ke luar lingkungan sekolah. Sekolah dapat menginisiasi forum
komunikasi atau kegiatan bersama yang melibatkan keluarga dalam program-program
ramah lingkungan yang praktis. Keharmonisan antara pola asuh di rumah dan
pendidikan di sekolah akan mencegah terjadinya kebingungan nilai pada anak
terkait isu kelestarian alam. Dengan melibatkan orang tua, sekolah secara tidak
langsung sedang membangun komunitas masyarakat yang lebih luas yang sadar akan
pentingnya keberlanjutan. Tradisi hijau yang dimulai dari sekolah dasar ini
pada akhirnya akan menjadi gerakan sosial yang memiliki dampak signifikan bagi
lingkungan sekitar.
Transformasi program menjadi tradisi memerlukan
ketekunan dalam menjaga konsistensi pelaksanaan aktivitas di tengah berbagai
tantangan yang muncul. Hambatan seperti keterbatasan sumber daya atau rasa
jenuh harus diatasi dengan inovasi-inovasi kegiatan yang menarik dan tidak
membosankan bagi siswa. Sekolah harus berani memberikan ruang bagi siswa untuk
memimpin beberapa inisiatif lingkungan guna menumbuhkan rasa percaya diri dan
kepemimpinan mereka. Evaluasi bersama yang dilakukan secara partisipatif akan
memberikan rasa dihargai bagi setiap anggota komunitas yang telah
berkontribusi. Dengan cara ini, semangat untuk menjaga lingkungan akan tetap menyala
dan menjadi warisan budaya sekolah yang terus dijaga sepanjang masa.
Sebagai penutup, sinergi komunitas adalah kunci utama
dalam memastikan bahwa kebaikan bagi alam tidak hanya berhenti pada jargon
semata. Ketika pelestarian lingkungan telah menjadi tradisi, setiap warga
sekolah akan merasa ada yang hilang jika mereka tidak melakukan praktik ramah
lingkungan dalam sehari saja. Pendidikan dasar memiliki peluang emas untuk
menanamkan tradisi mulia ini pada fase perkembangan anak yang paling reseptif terhadap
nilai-nilai karakter. Keberhasilan dalam membangun sinergi ini adalah cermin
dari keberhasilan kepemimpinan pendidikan yang berorientasi pada masa depan
planet bumi. Mari kita terus berkolaborasi untuk memastikan bahwa tradisi hijau
ini tetap lestari demi generasi yang akan datang.
###
Penulis
: Indriani Dwi Febrianti