Teknologi di Pendidikan Dasar: Antara Inovasi dan Realita di Lapangan
Sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Dasar, saya berkesempatan mendalami berbagai pendekatan penelitian dalam mata kuliah metodologi, mulai dari kuantitatif hingga pengembangan. Namun, pengalaman paling berkesan justru datang dari penerapan teknologi dalam pendidikan dasar—sebuah dunia yang penuh tantangan sekaligus peluang.
Di awal perkuliahan, saya mengira teknologi hanya sebatas penggunaan laptop, proyektor, atau aplikasi pembelajaran daring. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa teknologi adalah katalis yang mampu mengubah cara guru mengajar dan siswa belajar. Misalnya, penggunaan aplikasi interaktif seperti Kahoot atau Quizziz dalam pembelajaran matematika terbukti meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa secara signifikan.
Dalam penelitian kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen yang saya lakukan, saya membandingkan hasil belajar siswa kelas IV yang menggunakan media pembelajaran berbasis video animasi dengan siswa yang menggunakan buku teks konvensional. Hasilnya? Kelompok yang menggunakan video animasi menunjukkan peningkatan pemahaman konsep hingga 30%. Ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya pelengkap, tapi bisa menjadi strategi utama dalam pembelajaran.
Melalui desain korelasional, saya meneliti hubungan antara literasi digital siswa dan prestasi akademik mereka. Ternyata, siswa yang terbiasa menggunakan teknologi untuk belajar mandiri—seperti mencari informasi di internet atau menggunakan aplikasi edukatif—memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan siswa yang hanya mengandalkan buku cetak. Ini membuka mata saya bahwa literasi digital harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan dasar.
Dalam pendekatan kualitatif, saya melakukan studi kasus di sebuah SD negeri di pinggiran kota. Saya mewawancarai guru dan siswa tentang pengalaman mereka menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Guru mengungkapkan bahwa kendala terbesar adalah keterbatasan perangkat dan jaringan internet. Sementara itu, siswa merasa lebih senang belajar dengan video dan game edukatif, meskipun kadang bingung jika tidak ada pendampingan. Dari
sini saya belajar bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada pelatihan guru, dukungan infrastruktur, dan kebijakan yang berpihak pada digitalisasi pendidikan.
Pengalaman paling menantang sekaligus menyenangkan adalah saat saya melakukan penelitian pengembangan. Saya menggunakan model ADDIE untuk merancang media pembelajaran interaktif berbasis PowerPoint dan Canva untuk mata pelajaran IPA. Tahapan Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation benar-benar menguji kemampuan saya dalam merancang pembelajaran yang efektif dan menarik.
Saya juga mencoba model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) untuk membuat modul tematik berbasis literasi digital. Hasil uji coba menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dan mampu menyelesaikan tugas dengan lebih mandiri. Ini membuktikan bahwa desain pembelajaran yang matang dan berbasis teknologi dapat meningkatkan kualitas pendidikan dasar.
Meski teknologi menawarkan banyak kemudahan, saya belajar bahwa ia bukan solusi instan. Dalam konteks pendidikan dasar, teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik siswa, kesiapan guru, dan kondisi sekolah. Penelitian saya menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi teknologi sangat bergantung pada dukungan lingkungan belajar yang kondusif.
Sebagai calon pendidik dan peneliti, saya merasa bertanggung jawab untuk terus mengembangkan media pembelajaran yang relevan dan mudah diakses. Teknologi harus menjadi jembatan, bukan penghalang, dalam proses belajar mengajar.
Melalui mata kuliah metodologi penelitian dan pengalaman langsung di lapangan, saya semakin yakin bahwa teknologi memiliki peran penting dalam pendidikan dasar. Namun, keberhasilannya bergantung pada bagaimana kita merancang, menerapkan, dan mengevaluasi penggunaannya secara bijak. Pendidikan dasar adalah fondasi. Jika kita mampu memanfaatkan teknologi dengan tepat, kita tidak hanya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, tetapi juga membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
- Fira Zahrotul Ilma (Mahasiswa S2 Dikdas angkatan 2025)