TRANSFORMASI DIGITAL PENDIDIKAN: INTEGRASI CHATGPT DAN WHATSAPP WEB DALAM MENCAPAI TARGET SDGS 4
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT telah membawa perubahan paradigma yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan global, yang secara langsung berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas. Di Indonesia, integrasi teknologi ini tidak hanya terbatas pada penggunaan browser di komputer, tetapi juga merambah ke efisiensi komunikasi melalui WhatsApp Web yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi secara real-time tanpa hambatan perangkat yang kaku. Penggunaan platform ini memfasilitasi distribusi materi pembelajaran yang jauh lebih inklusif, di mana siswa dari berbagai latar belakang ekonomi kini dapat mengakses bantuan tutor AI untuk memahami konsep-konsep rumit dalam hitungan detik, yang sebelumnya mungkin hanya bisa didapatkan melalui les privat mahal.
Dalam konteks kurikulum merdeka yang sedang tren, pemanfaatan ChatGPT sangat membantu pendidik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang lebih personal dan adaptif bagi setiap keunikan siswa di kelas. Kemampuan AI untuk melakukan proses translate atau Google Translate secara instan terhadap berbagai literatur internasional juga berhasil meruntuhkan hambatan bahasa yang selama ini menjadi kendala utama dalam riset akademik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Hal ini menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang lebih adil dan merata, di mana informasi berkualitas tinggi tidak lagi menjadi monopoli mereka yang hanya menguasai bahasa asing tertentu saja, melainkan dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa.
Namun, tantangan besar tetap muncul terkait etika penggunaan dan potensi ketergantungan digital yang berlebihan pada siswa. Pemerintah melalui Kemendikdasmen terus mendorong agar teknologi ini digunakan sebagai alat bantu pendukung atau "co-pilot", bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis dan kreativitas manusia. Melalui koordinasi yang intensif dilakukan via grup-grup di WhatsApp Web, para pengawas pendidikan dan kepala sekolah dapat memantau perkembangan implementasi teknologi ini di daerah-daerah terpencil secara lebih cepat. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan indeks literasi digital nasional, yang merupakan pilar penting dalam mencapai target Indonesia Emas 2045 dan kemandirian intelektual bangsa di kancah global.
Secara teknis, efisiensi operasional di lingkungan sekolah meningkat drastis ketika tenaga kependidikan menggunakan fitur multi-device dari WhatsApp untuk mengelola administrasi siswa yang kompleks. Pengiriman tugas, pengumuman ujian, hingga koordinasi rapat orang tua menjadi lebih terorganisir dan terdokumentasi dengan baik dalam sistem digital. Di sisi lain, para siswa juga mulai terbiasa menggunakan bantuan AI untuk merangkum video-video edukasi yang berdurasi panjang dari YouTube, sehingga waktu belajar mandiri mereka menjadi jauh lebih efektif dan tepat sasaran. Sinergi antara teknologi komunikasi dan kecerdasan buatan ini menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dalam arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Ke depannya, keberlanjutan pendidikan berbasis teknologi ini akan sangat bergantung pada infrastruktur internet yang merata dan terjangkau di seluruh pelosok negeri. Upaya pemerintah dalam menyediakan akses internet hingga ke desa-desa tertinggal merupakan langkah nyata dalam mendukung target SDGs untuk menghilangkan kesenjangan digital. Dengan akses yang mudah ke alat seperti ChatGPT dan kemudahan koordinasi via web, kualitas lulusan pendidikan dasar dan menengah diharapkan meningkat secara signifikan baik dari segi kognitif maupun keterampilan teknis. Inovasi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan fondasi baru bagi sistem pendidikan masa depan yang lebih adaptif, responsif, dan manusiawi dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
###
Penulis: Anisa Rahmawati