Musim dengan udara kering sering kali menyebabkan anak-anak mengalami bibir pecah-pecah dan kulit kering. Kondisi ini terjadi karena kelembapan udara menurun sehingga tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui pernapasan dan kulit. Anak-anak sekolah dasar yang aktif bergerak sering kali tidak menyadari kebutuhan cairan tubuhnya, sehingga dehidrasi ringan mudah terjadi tanpa disadari.
Bibir pecah-pecah bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat menyebabkan luka kecil dan infeksi jika dibiarkan. Guru dan orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda seperti bibir kering, mengelupas, atau anak sering menjilat bibirnya. Kebiasaan menjilat bibir justru memperparah kekeringan karena air liur akan cepat menguap dan menarik kelembapan alami dari permukaan kulit.
Untuk mencegah kondisi tersebut, anak-anak perlu dibiasakan minum air putih secara rutin, bahkan ketika mereka tidak merasa haus. Membawa botol minum pribadi ke sekolah bisa menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga asupan cairan harian. Selain air putih, konsumsi buah-buahan yang kaya air seperti semangka, jeruk, dan melon juga dapat membantu menjaga hidrasi tubuh dari dalam.
Sekolah juga dapat mendukung kebiasaan sehat ini dengan menyediakan waktu istirahat yang cukup agar siswa bisa minum air dan beristirahat setelah beraktivitas. Guru dapat memberikan edukasi ringan tentang pentingnya menjaga kelembapan tubuh dan kulit, terutama saat cuaca terasa kering. Menggunakan pelembap bibir khusus anak juga bisa menjadi solusi tambahan untuk mencegah iritasi.
Dengan menjaga pola hidrasi yang baik, anak-anak dapat terhindar dari masalah bibir pecah-pecah dan kulit kering yang sering muncul pada musim udara kering. Hidrasi yang cukup bukan hanya mendukung kesehatan kulit, tetapi juga membantu menjaga konsentrasi, energi, dan kenyamanan belajar anak sepanjang hari di sekolah.