Ketika Irama Karawitan Menjadi Pelajaran Matematika
Penulis: Neni Mariana
Sumber:
images.google.com
Di sebuah sekolah dasar, nada-nada gamelan tradisional
bukan hanya mengisi ruang pentas kebudayaan — mereka juga mampu menjadi pintu
masuk ke dunia matematika. Penelitian oleh Dyah Marta Amalia dan Neni Mariana
(2021) menunjukkan bagaimana hadirnya video pembelajaran berbasis karya seni
karawitan, khususnya lancaran Kebogiro, dapat menghidupkan konsep-konsep
matematika di kelas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan autoetnografi, di
mana peneliti tidak hanya mengamati tetapi turut mengalami proses pembuatan
video seni karawitan tersebut. Melalui studi literatur, wawancara
semi-terstruktur, dan refleksi diri, mereka mendeskripsikan bagaimana dari
sebuah pertunjukan karawitan muncul elemen-elemen matematika: dari bangun datar
seperti persegi, persegi panjang, lingkaran, dan trapesium; hingga bangun ruang
seperti bola, balok, dan tabung.
Melalui tahapan pra-produksi (penyusunan flowchart,
storyboard, dan naskah), produksi (pengambilan gambar dan audio), serta
pasca-produksi (editing dan mixing), karya seni karawitan diubah
menjadi media pembelajaran yang menarik dan relevan di era digital. Proses ini
bukan hanya menampilkan keterpaduan antara seni dan teknologi, tetapi juga
memperlihatkan bagaimana konsep-konsep matematika dapat ditemukan di setiap
tahap kreativitas.
Penelitian ini menemukan bahwa seni karawitan mengandung
unsur-unsur matematis yang kaya dan dapat dijadikan media kontekstual dalam
pembelajaran. Misalnya, pola irama dalam gamelan dapat dihubungkan dengan pola
bilangan, interval waktu dalam tabuhan dapat dijelaskan melalui konsep
pengukuran, dan bentuk instrumen gamelan sendiri dapat menjadi contoh nyata
dari bangun ruang. Dengan demikian, matematika tampil tidak lagi sebagai ilmu
yang abstrak, tetapi sebagai bagian dari kehidupan dan budaya.
Dampak dari penerapan media ini sangat positif. Guru dan
siswa mengalami pembelajaran yang lebih bermakna. Siswa dapat mengenali pola,
bentuk, dan perhitungan melalui aktivitas yang menyenangkan dan bernilai
budaya. Guru pun menemukan cara baru untuk memperkenalkan matematika melalui
konteks yang familiar bagi anak-anak Indonesia. Melalui irama dan harmoni
karawitan, matematika diajarkan dengan cara yang lembut namun kuat —
menghubungkan logika dengan rasa.
Penelitian ini memberikan inspirasi bagi guru sekolah
dasar untuk lebih kreatif memanfaatkan potensi seni dan budaya lokal sebagai
sumber belajar. Seni karawitan, wayang, tari, atau bahkan lagu daerah bisa
menjadi sarana untuk memperkaya konsep matematika yang diajarkan. Dengan cara
ini, siswa tidak hanya belajar berhitung, tetapi juga belajar menghargai
kebudayaan bangsanya sendiri.
Pembelajaran berbasis budaya seperti ini memperkuat pesan
bahwa matematika ada di mana-mana — di antara nada, di dalam gerak, dan di
balik setiap karya manusia. Ketika guru berani menjembatani angka dengan seni,
maka kelas matematika akan bertransformasi menjadi ruang yang berirama: penuh
logika, penuh rasa.
Sumber Pustaka:
Amalia, D. M., & Mariana, N. (2021). Studi
autoethnografi pembuatan video seni karawitan Lancaran Kebogiro untuk
pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru
Sekolah Dasar, 9(6).