Mengubah Sampah Menjadi Angka: Ketika Matematika “Peduli” Lingkungan di Kelas V
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Bayangkan sebuah kelas di sekolah dasar yang biasa saja. Namun, di salah satu sudut ruang kelas terdapat tumpukan sampah ringan di bawah meja siswa. Bukannya diabaikan, tim peneliti melihat hal tersebut sebagai titik awal yang menarik untuk menghidupkan pembelajaran matematika. Sebuah penelitian di suatu SD adiwiyata di Surabaya oleh Desi Kuswulan Dariyanto dan Neni Mariana mencoba mengintegrasikan isu lingkungan khususnya pengelolaan sampah ke dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
Peneliti memulai dengan refleksi kritis: “Mengapa sampah masih sering ditemukan di ruang kelas?” Dari sana, muncul gagasan bahwa sampah bukan semata-masalah kebersihan, melainkan potensi untuk mengolah data dan berpikir matematika. Kegiatan ini menggunakan dua pendekatan sekaligus: transformative research (mengubah persepsi dan sikap siswa) dan design research (mendesain model pembelajaran lokal yang relevan).
Dalam skema yang dikembangkan, siswa kelas V diajak mengumpulkan data tentang sampah yang dihasilkan, kemudian mengolahnya secara matematis misalnya menghitung frekuensi jenis sampah, membandingkan jumlah, atau membuat prediksi pengurangan jika ada perubahan perilaku. Hasilnya bukan hanya angka di kertas, melainkan pemahaman bahwa matematikalah yang bisa “menghitung” dampak lingkungan. Dari analisis auto/etnografi, konsep yang paling dominan muncul adalah “Pengolahan Data” sebagai bagian inti matematika.
Salah satu dampak penting dari penelitian ini adalah bahwa proses pembelajaran tersebut berhasil mengubah pandangan siswa terhadap sampah. Tidak lagi dianggap “sisa yang dibuang”, tapi sebagai objek yang bisa dianalisis, dihitung, dan dikelola. Model pembelajaran lokal yang dihasilkan mencakup empat aktivitas khusus yang dirancang untuk memperkuat keterlibatan siswa dalam pengelolaan sampah melalui proses matematis.
Penelitian ini memberikan pelajaran bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar bisa lebih otentik dan bermakna jika dikaitkan dengan isu nyata dalam hal ini, sampah dan lingkungan. Guru dapat menyelipkan aktivitas pengumpulan data nyata, pengolahan statistik sederhana, dan refleksi terhadap perilaku siswa sebagai bagian dari pembelajaran matematika. Dengan demikian, siswa tidak hanya “menghitung” tetapi juga “berpikir dan bertindak” dalam konteks yang relevan.
Penulis : Neni Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D.
Gambar : google.com
Sumber Pustaka:
Dariyanto, D. K., & Mariana, N. (2019). Penelitian multi paradigma: Matematika peduli sampah dengan pendekatan PMRI di kelas V SDN Jambangan I/413 Surabaya. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 7(3).