Pembelajaran Sosial-Emosional: Fondasi Tersembunyi Deep Learning di SD
Penulis: Neni Mariana
Pembelajaran mendalam tidak hanya tentang kognitif
tetapi juga sosial-emosional. Anak perlu merasa aman secara emosional untuk
mengambil risiko intelektual yang diperlukan dalam pembelajaran mendalam.
Mereka perlu keterampilan sosial untuk berkolaborasi efektif dalam pembelajaran
kelompok. Regulasi emosi membantu mereka menghadapi frustrasi ketika menghadapi
konsep yang sulit. Pembelajaran sosial-emosional (SEL) adalah fondasi
tersembunyi yang mendukung pembelajaran mendalam di SD.
Komponen pertama SEL adalah self-awareness atau
kesadaran diri tentang emosi dan kekuatan sendiri. Anak perlu mengenali dan
memberi nama emosi yang mereka rasakan. Mereka perlu memahami bahwa setiap
orang memiliki kekuatan dan area untuk berkembang. Growth mindset – keyakinan
bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui usaha – adalah bagian dari
self-awareness. Guru bisa memfasilitasi ini melalui refleksi rutin, journaling,
atau circle time.
Komponen kedua adalah self-management atau kemampuan
mengatur emosi dan perilaku. Anak belajar strategi untuk menenangkan diri
ketika frustrasi atau marah. Mereka mengembangkan persistence dan resilience
ketika menghadapi tantangan. Goal-setting dan organizational skills juga bagian
dari self-management. Pembelajaran mendalam sering menantang dan membuat
frustrasi, sehingga self-management sangat krusial untuk kesuksesan.
Komponen ketiga adalah social awareness atau kemampuan
memahami dan berempati dengan orang lain. Anak belajar perspective-taking –
melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Mereka mengembangkan empati dan
compassion terhadap teman yang berbeda latar belakang. Appreciation for
diversity memperkaya diskusi dan kolaborasi dalam pembelajaran. Guru memodelkan
dan mengajarkan empati melalui literature, role-play, dan real situations.
Komponen keempat adalah relationship skills atau
keterampilan membangun hubungan positif. Komunikasi yang efektif, listening
actively, dan bekerja sama dalam kelompok perlu diajarkan eksplisit. Conflict
resolution dan negotiation adalah keterampilan yang berkembang melalui praktik.
Pembelajaran kolaboratif dalam deep learning memberikan konteks authentic untuk
mengembangkan keterampilan ini. Guru perlu membimbing interaksi dan memberikan
feedback tentang bagaimana anak berinteraksi.
Komponen kelima adalah responsible decision-making
atau kemampuan membuat keputusan yang bertanggung jawab. Anak belajar
mengidentifikasi masalah, menganalisis situasi, dan mengevaluasi konsekuensi
dari berbagai pilihan. Mereka mengembangkan ethical reasoning dan sense of
responsibility. Decision-making dalam konteks academic dan sosial mempersiapkan
mereka untuk kehidupan di luar sekolah. Pembelajaran berbasis proyek memberikan
banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan ini.
Integrasi SEL ke dalam pembelajaran akademik membuat
keduanya saling memperkuat. Ketika anak merasa secara emosional aman dan
sosially connected, mereka lebih terbuka untuk pembelajaran mendalam.
Keterampilan kolaborasi memungkinkan pembelajaran peer-to-peer yang kaya.
Resilience membantu mereka bertahan ketika konsep sulit dipahami. Growth
mindset membuat mereka melihat kesalahan sebagai kesempatan belajar. SEL bukan
add-on tetapi integral part dari pembelajaran mendalam yang efektif di SD.