Pendidikan Karakter Berbasis Sekolah: Canva sebagai Media Kreatif
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan karakter berbasis sekolah menekankan penguatan nilai seperti tanggung jawab, empati, kerjasama, dan kejujuran melalui aktivitas belajar sehari-hari. Sekolah menjadi ekosistem tempat nilai-nilai ini diinternalisasi melalui interaksi, pembiasaan, serta praktik kolaboratif. Pendekatan ini menuntut konsistensi dari guru, kurikulum, hingga budaya sekolah. Dalam era digital, pendidikan karakter juga membutuhkan inovasi media agar relevan dengan dunia anak. Salah satu tantangan sekaligus peluang berasal dari platform kreatif seperti Canva.
Canva sering digunakan siswa untuk membuat poster, presentasi, hingga karya visual lain. Namun, penggunaan Canva tanpa pengarahan dapat menghasilkan karya yang hanya fokus pada estetika tanpa pemahaman nilai yang terkandung. Guru perlu memahami bahwa media visual memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan nilai. Pendidikan karakter berbasis sekolah harus memastikan bahwa karya digital berisi pesan moral yang kuat, bukan sekadar simbol visual. Di sinilah peran pedagogis guru menjadi vital.
Guru dapat merancang proyek karakter berbasis Canva, misalnya poster tentang kejujuran, kampanye anti-bullying, atau desain refleksi diri. Dengan pendekatan project-based learning, anak akan memaknai nilai karakter melalui proses kreatif. Mereka tidak hanya membuat desain, tetapi juga belajar merumuskan pesan, mengambil keputusan etis, dan merefleksikan nilai diri. Proses ini memperkuat internalisasi nilai melalui pengalaman nyata. Canva menjadi jalan kreatif untuk menanamkan pendidikan karakter.
Selain itu, kegiatan berbasis Canva dapat meningkatkan kolaborasi antar siswa. Mereka belajar berdiskusi, berbagi ide, dan menyelesaikan konflik dalam proses kreatif. Keterampilan sosial-emosional ini merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Dengan demikian, media digital tidak bertentangan dengan pembentukan karakter, tetapi justru memperluas cakupannya. Media visual membantu anak memahami nilai dengan cara yang relevan dan kontekstual.
Pada akhirnya, pendidikan karakter berbasis sekolah harus mengadopsi media yang dekat dengan dunia anak seperti Canva. Tantangan estetika dapat berubah menjadi peluang ketika guru merancang pembelajaran yang bermakna. Nilai karakter dapat ditanamkan melalui karya, refleksi, dan kolaborasi digital. Integrasi yang tepat membuat pendidikan karakter lebih hidup dan dekat dengan pengalaman siswa. Canva menjadi bukti bahwa teknologi dapat memperkuat nilai, bukan mengaburkannya.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari