TikTok: Potensi dan Tantangannya dalam Pembelajaran
TikTok dikenal luas sebagai
platform video pendek yang digemari oleh anak-anak, remaja, hingga orang
dewasa. Popularitasnya tumbuh pesat karena format videonya yang singkat,
kreatif, dan mudah dikonsumsi. Walau sering dipandang sebagai aplikasi hiburan
semata, TikTok sebenarnya memiliki potensi edukatif yang cukup besar, terutama
dalam konteks pembelajaran mikro (microlearning). Pendekatan ini menyajikan
materi dalam potongan ringkas yang dapat membantu siswa memahami konsep dasar
dengan cepat dan menyenangkan.
Dalam pembelajaran sekolah
dasar, TikTok dapat dimanfaatkan sebagai media pemantik atau pengantar sebelum
masuk ke materi inti. Siswa SD memiliki rentang perhatian yang relatif singkat,
sehingga video berdurasi 15–60 detik menjadi format yang sesuai. Banyak kreator
edukasi yang sudah membuat konten informatif mulai dari trik matematika,
eksperimen sains sederhana, cerita moral, hingga tips membaca. Guru dapat
memilih video yang relevan untuk menstimulasi rasa ingin tahu siswa di awal
pembelajaran.
Contohnya, sebelum memulai
pelajaran matematika, guru dapat menayangkan video trik perkalian cepat atau
cara menghitung luas bangun datar dengan cara kreatif. Pada pelajaran IPA,
video eksperimen sederhana dapat memancing minat siswa terhadap fenomena alam.
Visual menarik, musik yang energik, serta efek animasi di TikTok dapat
meningkatkan motivasi belajar dan membuat suasana kelas lebih hidup. Video
tersebut tidak menggantikan penjelasan guru, tetapi menjadi pintu pembuka yang
efektif untuk mengaitkan konsep dengan dunia digital yang akrab bagi anak-anak.
Selain sebagai sumber belajar,
TikTok juga dapat digunakan sebagai media apresiasi karya siswa. Guru dapat
membuat kompilasi foto hasil gambar siswa, menampilkan proses proyek P5, atau
mendokumentasikan aktivitas kelas dalam bentuk video pendek. Penyajian karya
dalam format visual modern seperti ini dapat meningkatkan kebanggaan siswa dan
memperkuat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua. Kelas menjadi lebih
terasa sebagai komunitas yang hidup dan produktif.
Namun, penggunaan TikTok di
sekolah dasar tidak terlepas dari tantangan. Platform ini memiliki beragam
konten, termasuk yang tidak sesuai untuk anak-anak. Siswa SD belum memiliki
kemampuan penuh untuk menyaring informasi, sehingga akses bebas ke TikTok dapat
menimbulkan risiko. Karena itu, TikTok tidak boleh digunakan secara mandiri
oleh siswa, baik di sekolah maupun di rumah, tanpa pendampingan orang dewasa.
Guru harus memastikan bahwa video yang ditampilkan sudah melalui proses seleksi
ketat dan aman untuk ditonton.
Dengan pemanfaatan yang bijak,
TikTok dapat menjadi jembatan efektif untuk menghadirkan pembelajaran yang
lebih segar, relevan, dan dekat dengan budaya digital generasi saat ini. Video
pendek yang dipilih dengan tepat dapat menjadi pengantar yang kuat untuk
membuka topik pelajaran, memotivasi siswa, dan membuat kelas lebih
menarik—tanpa mengorbankan keamanan maupun nilai pendidikan.
Penulis: Windha Ana Sevia