Transformasi Digital dan Tantangan Kesiapan Guru di Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Integrasi teknologi digital dalam pendidikan dasar semakin menjadi keharusan seiring perubahan ekosistem belajar abad ke-21. Namun, tingkat kesiapan guru masih sangat beragam antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Banyak guru memahami urgensi digitalisasi tetapi belum sepenuhnya menguasai praktik pedagogis berbasis teknologi. Situasi ini memunculkan kesenjangan implementasi antarwilayah, terutama antara sekolah perkotaan dan pedesaan. Kondisi tersebut menuntut kebijakan pelatihan yang lebih sistematis dan merata.
Penggunaan perangkat digital semestinya tidak hanya berfokus pada aspek alat, tetapi juga pada transformasi pendekatan pembelajaran yang lebih konstruktif. Guru perlu memahami bagaimana teknologi memperkaya pengalaman belajar, bukan sekadar mengganti alat tradisional. Pendekatan “teknologi untuk belajar” harus menggantikan pola lama “belajar teknologi”. Guru juga perlu memahami peran teknologi dalam memperkuat literasi informasi siswa. Hal ini memerlukan kurikulum pelatihan yang terstandar dan berkelanjutan.
Selain kompetensi teknis, pendidik harus memiliki literasi digital kritis untuk menavigasi risiko informasi di era internet. Siswa sekolah dasar rentan terhadap paparan informasi yang tidak sesuai usia atau tidak kredibel. Guru harus dapat membimbing siswa mengidentifikasi informasi yang tepat melalui pendekatan literasi digital bertingkat. Tanpa kapasitas ini, integrasi teknologi justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Pendidikan digital harus berjalan seiring dengan pendidikan karakter.
Kesiapan infrastruktur juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan integrasi digital. Banyak sekolah masih menghadapi keterbatasan jaringan internet, perangkat, dan akses listrik yang stabil. Ketimpangan infrastruktur berakibat pada ketimpangan capaian belajar siswa. Hal ini memunculkan urgensi investasi yang lebih terarah dan berkelanjutan dari pemerintah. Kesenjangan teknologi harus diatasi agar tidak menciptakan ketidakadilan pendidikan.
Transformasi digital hanya dapat berhasil jika sekolah, guru, pemerintah, dan orang tua bekerja secara sinergis. Guru membutuhkan dukungan kebijakan, sementara orang tua perlu memahami bagaimana pendampingan digital dilakukan secara sehat. Kolaborasi tingkat ekosistem sangat menentukan kualitas hasil belajar siswa. Digitalisasi pendidikan bukan hanya program teknis, tetapi perubahan paradigma. Oleh sebab itu, pendekatannya harus simultan, bertahap, dan inklusif.
####
Penulis: Aida Meilina