AI Bukan Musuh Sekolah Tapi Cermin Kejujuran dalam Proses Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kehadiran kecerdasan buatan sering diposisikan sebagai ancaman. Ia dianggap merusak keaslian proses belajar dan melemahkan usaha personal. Kekhawatiran ini tumbuh seiring meningkatnya kemudahan memperoleh jawaban instan. Namun narasi ancaman sering menutupi persoalan yang lebih mendasar. AI tidak datang membawa krisis moral secara tiba-tiba. Ia hanya memperjelas apa yang selama ini tersembunyi. Integritas belajar yang rapuh kini terlihat jelas di permukaan. Dalam konteks ini, AI berfungsi sebagai cermin, bukan musuh.
Cermin itu memantulkan cara kita memahami belajar. Jika belajar dipersempit menjadi hasil akhir, maka AI dianggap jalan pintas berbahaya. Namun jika belajar dipahami sebagai proses berpikir, AI justru menguji kedalaman pemahaman. Ia menantang individu untuk tidak berhenti pada jawaban. Tantangan ini membuka ruang refleksi yang jujur.
AI juga memperlihatkan hubungan kita dengan kejujuran intelektual. Ketika teknologi digunakan untuk menutupi ketidaktahuan, masalahnya bukan pada alat. Masalahnya terletak pada motivasi belajar. AI hanya mempercepat apa yang sudah diniatkan. Tanpa niat jujur, alat apa pun berpotensi disalahgunakan.
Integritas belajar diuji melalui pilihan. Pilihan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu atau sebagai pengganti berpikir. Pilihan ini bersifat personal dan etis. AI tidak memaksa siapa pun untuk tidak berpikir. Ia hanya menyediakan kemungkinan. Dari kemungkinan inilah karakter belajar terlihat.
Dalam perspektif yang lebih luas, AI mengungkap ketegangan antara kecepatan dan kedalaman. Dunia menghargai kecepatan, tetapi pemahaman membutuhkan waktu. AI menawarkan kecepatan tanpa jaminan kedalaman. Individu ditantang untuk menyeimbangkan keduanya. Keseimbangan ini mencerminkan integritas belajar.
AI juga mengubah cara menilai orisinalitas. Orisinalitas tidak lagi sekadar bebas dari bantuan teknologi. Ia bergeser menjadi kemampuan memberi makna. Makna lahir dari penalaran, bukan dari sumber jawaban. AI tidak mampu menggantikan proses pemaknaan ini.
Pada akhirnya, AI bukan musuh, melainkan cermin integritas belajar. Ia memperlihatkan sejauh mana proses belajar dijalani dengan jujur. Dalam pantulan cermin itu, setiap individu dihadapkan pada pilihan etisnya sendiri.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah