Antara Manfaat dan Risiko: Menyikapi Masuknya Kecerdasan Buatan di Sekolah Dasar
S2dikdas.fip.unesa.ac.id , Surabaya — Pandangan kritis dari para praktisi pendidikan terkait rencana penerapan kurikulum berbasis kecerdasan buatan atau AI di sekolah dasar adalah hal yang sangat wajar dan perlu didengar. Teknologi AI memang menawarkan kemudahan yang luar biasa: bisa membantu menyusun materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, memberikan latihan soal yang variatif, hingga membantu guru dalam menilai hasil pekerjaan siswa. Namun penerapan teknologi ini pada tingkat dasar sekolah, masa emas pembentukan karakter dan dasar kemampuan berpikir tidak bisa dilakukan secara terburu-buru tanpa kajian mendalam.
Salah satu kekhawatiran utama adalah hilangnya risiko kemampuan dasar berpikir dan kreativitas pada anak. Jika sejak dini anak-anak terbiasa meminta jawaban kepada mesin, mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk mencoba, gagal, dan menemukan solusi sendiri. Padahal, proses belajar yang sesungguhnya terletak pada perjalanan mencari jawaban itu sendiri, bukan sekadar hasil akhirnya. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa peran guru perlahan tergantikan, padahal kehadiran guru yang bisa memberikan dukungan emosional, keteladanan perilaku, dan motivasi adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin sekecil apa pun canggihnya.
Kritikan yang disampaikan bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan mengajak kita untuk lebih berhati-hati dalam menerapkannya. Kita tidak boleh membiarkan teknologi mengendalikan cara anak belajar, melainkan teknologi harus menjadi alat yang mendukung pembelajaran. Dalam perluasan dasar sekolah, fondasi yang paling penting adalah kemampuan berkomunikasi, membaca, berhitung, berkreasi, serta membangun karakter yang jujur dan bertanggung jawab. AI dapat membantu mempermudah proses ini, namun tidak dapat menggantikan hal-hal mendasar tersebut.
Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur. Apakah guru sudah cukup memahami cara menggunakan AI dengan bijak? Apakah ada jaminan bahwa konten yang disajikan mesin sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya dan karakter bangsa? Apakah semua sekolah memiliki fasilitas yang setara sehingga tidak terjadi keselarasan baru? Tanpa pertanyaan-pertanyaan ini, penerapan kurikulum berbasis AI hanya akan menjadi percobaan yang berisiko merusak proses pendidikan anak-anak.
Kita perlu menyambut teknologi dengan pikiran terbuka namun tetap kritis. Kurikulum berbasis AI mungkin akan menjadi bagian dari masa depan pendidikan, namun harus dirancang dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi siswa sekolah dasar. Biarkan teknologi menjadi mitra yang mendukung, bukan pengganti guru, dan pastikan ia tidak mengikis kemampuan dasar serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar pendidikan kita. Kemajuan sejati bukanlah seberapa canggih alat yang kita gunakan, melainkan seberapa baik kita mendidik generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan mampu mengendalikan teknologi demi kebaikan bersama.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah